3G
Girls, Games, and Gambling, itulah komentar temen dari Indosat tentang layanan yang pasti laku di internet. Waduh…
Temenku mendapat order bikin aplikasi SMS Center buat kuis di TV. Itu loh, yang mirip sms AFI. Dibayar lumayan, tentu saja, rencananya…. Tapi dia gak mau. Lah, bukannya itu ‘very guampang’ buat dia yang udah karatan nggelutin SMS..?
Tepatnya bukan gak mau, tapi ragu. “Apa kuis-kuisan model itu bukan seperti judi?” katanya. “Ah, masak? Wah, aku juga nggak tahu. Harusnya tanya kyai.. Emang kenapa gitu?” tanyaku. Menurut temanku itu, kuis model di TV yang ujung-ujungnya diundi, kan sama saja dengan beli nomor buntutan. Atau sama juga dengan Porkas dulu itu. Memang biasanya kuis itu ada unsur tebak-tebakannya (laiknya uji kecerdasan). Tapi ujung-ujungnya ya diundi. Trus duitnya diambil dari ‘iuran’ para peserta yang kirim SMS dengan harga premium (Rp 2000 - Rp 3000). “Itu kan sama saja ngumpulin duit bareng-bareng, diundi, yang menang dapat duitnya,” katanya. Lah, kok aku juga baru sadar?
Selasa 6 Juni, Gubernur dan Ketua DPRD Jabar menandatangani deklarasi “Jabar Bebas Judi 2005″. Disambut gema takbir, gubernur menandatangani kontrak politik yang disodorkan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Bandung Raya. Tidak tahu apakah para mahasiswa itu juga ‘melek’ teknologi buat mendefinisikan jenis-jenis judi baru yang pakai teknologi. Itu juga kalau mereka setuju pandangan temenku yang menolak rejeki proyek itu.
Salah seorang temanku yang lain sempat menghitung penghasilan kuis SMS dari Petir (Penghuni Terakhir -reality show di TV) yang kata dia di minggu penentuan bisa masuk lebih dari 5 juta SMS. Bahkan sepertinya 8 juta SMS (dia agak gak yakin gitu?). Coba kalau dia bener, maka minggu itu masuk omzet (dengan asumsi premium SMS Rp 3000) sebesar Rp 24 milyar. Hadiah Rp 20 juta. Wah, labanya besar buaanget…! Masih kata temanku, dengar-dengar saluran premium itu bayar hingga Rp 700 juta per bulan ke operator. Gak ikut-ikutan. Aku juga semakin bingung mbedain kuis, game, dan gambling. Bingung-ngung-ngung…
Kalau 3G itu gak ada, apa internet akan semarak seperti ini? Yang kutahu perusahaan Gravity, pembuat Ragnarok dari Korea, mendapat omzet 50 juta dolar dengan laba 13 juta dolar di tahun 2003. Kabarnya di tahun 2004 diperkirakan beromzet 70 juta dolar dengan laba 35 juta dolar. Kalau yang ini sih -game- aku jelas angkat jempol!
… Kenapa yang ‘enaq-enaq’ itu .. diharamkan…. (lagu Rhoma Irama)



Di Malaysia yang negeri muslim saja ada judi. Kadang orang-orang kita itu lucu dan munafik. Coba saja telusuri jalan2 di Jakarta kota (Hayam Wuruk dan sekitarnya), tempat judi bola tangkas bertebaran di mana-mana. Bahkan saya pernah diajak teman ke salah satu gedung, ternyata isinya casino beneran!
Legalkan judi! Keruk duit penjudi untuk masuk ke kas negara! Penjudi tidak bakalan menang kok. Lokalisasikan ke suatu tempat khusus (pulau di tengah laut misalnya).
Apakah dengan judi maka masyarakat akan bertambah tidak bermoral? Menurut saya kok tidak ya. Biarkan mereka memilih sendiri mana yang cocok buat mereka. Semakin dilarang, maka semakin orang tuh kepingin.
Comment by obyektif — June 8, 2005 @ 3:36 pm
Hm.. setelah baca ini saya baru kepikir ttg aspek judi di quiz sms. Terima kasih pencerahannya
Beruntung pak punya temen masih bisa “idealis” begitu, apalagi ini nyangkut urusan duit. Salut.
Comment by Andry — June 8, 2005 @ 6:35 pm
Sepertinya memang bangsa ini suka yang namanya mimpi , jadi quiz-quiz yang kayak/mendekati/memang judi menjadi laris sekaleee
Comment by sueng — June 9, 2005 @ 12:13 am
bener banget, pak ! MUI musti keluarin fatwa, tuch ! biar jelas dan Pemerintah keknya juga musti bikin aturannya. salam
)
Comment by Qky — June 9, 2005 @ 2:39 am
Betul sekali, bangsa ini kayaknya bangsa yang sangat senang sekali meniru (dan membajak!), gampang lupa dan suka dengan cara-cara shortcut untuk mengatasi semua hal (termasuk bila ingin kaya). Aa Gym dulu kabarnya mau bikin reality show yang islami, kapan ya? Selain dibutuhkan fatwa atau minimal pencerahan seperti tulisan ini, kita juga butuh counter program sebagai alternatif. Tapi mungkin stasiun TV sulit menerima ya karena barangkali ratingnya tidak cukup baik? Memang yang bagus-bagus seringkali tidak menarik…
Comment by hendro — June 9, 2005 @ 9:09 am
mas, kita buat kuis kaya’ gitu dong, pengen cepet kaya nih!
Comment by Imponk — June 9, 2005 @ 5:31 pm
Wah, Rul selama ini aku dan suami sering juga mendiskusikan masalah ini. Remaja dan masyarakat kita pada umumnya sudah dibodohi oleh pooling via sms ini…lha mereka yang buang-buang duit untuk bayar pulsa, yang ngetop ya para bintang AFI,Indonesian Idol dll dan yang makin kaya kan penyelenggaranya…ealllahh..kok yha pada gak sadar kalo mereka sudah dibodohi amat sangat..
Belum lagi sekarang setelah baca tulisan Irul, wah…emang menyerupai judi juga tuh…Ntar aku tanyain Pak ustad deh…he-he..
Comment by lita — June 22, 2005 @ 3:47 pm
Betul sekali itu pak…kalau dulu judi lewat SDSB sekarang lewat sms. Emang sekarang orang pintar cari cara buat “melegalkan” judi!
Comment by harish — August 26, 2006 @ 10:50 pm
setuju, no judi!
Comment by goes — November 9, 2006 @ 2:49 am