Bebaskan komputer, tahan padi!
Ada yang mau jadi petani? Bisnis rugi loh.
“Kadang bolos mas, ngurus sawah. Tapi sekarang hasilnya sedikit. Padahal ngurusnya susah.”
Demikian kata salah seorang pramugara kereta api, kenalanku di atas kereta siang itu. Mengurus sawah sekarang susah. Pupuk mahal, sudah dipanen, eh harga gabah murah. Bukannya untung malahan jadi rugi. Salah siapa?
Terbang rendah Jogja-Semarang, tampak bentangan sawah nan sangat luas. Ini negeri… negeri petani, kok bisa busung lapar? Petani sekarang makin malas untuk menanam padi. Rugi sih. Di kampung ayahku, ternak ikan lebih menguntungkan daripada tanam padi. Satu bulan, sudah panen. Untung. Harga padi sangat-sangat murah. Empat bulan tanam, setelah panen, eh, petani buntung.
Memang sudah haknya negara menarik pajak. Tapi rasanya pajak di negeri kita dijalankan dengan gaya preman. Asal ambil, asal kepruk, buat siapa juga tak jelas. Kabarnya salah satu tujuan pajak, terutama pajak impor, adalah untuk melindungi produksi dalam negeri. Lah, mana hasilnya? Komputer dipajak mahal, handphone juga. Padahal itu barang-barang produksi. Sementara beras impor tidak dipajak mahal, alasannya untuk makan rakyat. Demikian pula kedelai, gula, bahkan garam. Semua impor-por-por…
Tidakkah pemerintah kita itu tahu, memajak komputer sama sekali tidak melindungi produksi dalam negeri (dimana sih ada pabrik komponen komputer di negeri ini? kalau ada, mari kita proteksi). Sementara beras petani adalah jelas-jelas produk dalam negeri. Ini yang jelas perlu proteksi! Seingat saya sewaktu di Jepang, harga beras muahal sekali. Pemerintah menerapkan pajak yang sangat tinggi untuk beras impor. Akibatnya beras menjadi mahal. Sekilas itu seperti menyiksa rakyat sendiri, ternyata di balik itu tujuannya sangat bagus, dan sudah terbukti. Beras Jepang yang mahal itu menyebabkan petani Jepang terus menanam padi. kata teman saya, bahkan Kaisar Jepang mempromosikan beras produk dalam negeri dengan sengaja tampil di TV sedang makan nasi Jepang. Karena beras mahal, orang Jepang juga terbiasa makan beras ’secukupnya’. Bagaimana dengan yang miskin? Ya, program ‘beras miskin’ dijalankan dengan benar. Beras di kita murah, siapa diuntungkan? (Paling juga diselundupkan lagi ke luar negeri…)
Sebaliknya untuk komputer dan fasilitas yang bisa membantu negeri ini segera ‘melek’ mengejar ketertinggalan, semestinya murah saja pajaknya. Toh, tidak ada industri komponen komputer di negeri ini! Biar petani kita juga belajar cari info sendiri seperti di India. Biar petani kita tidak lagi dipermainkan tengkulak. Kalau makin banyak yang ‘melek’ komputer dan pakai handphone, bukannya masyarakat kita ‘berpeluang’ menjadi makin produktif? (kita-kita kan udah ngerasa bisnis jadi lancar dengan HP, begitu juga loh pedagang di pasar..)
Jadi ini petisinya : turunkan pajak impor barang produksi (komputer, HP, dll) dan naikkan pajak impor barang konsumsi (TV, VCD, beras, kedelai, dll)!

Lindungi petani, lindungi petani…. (aku kok jadi emosi gini mbelain petani…)



Negara kita memang kebalik kok. Ganti pemimpin juga tidak ada gunanya! Kadang bikin jengkel dan marah. Solusi? HUKUM MATI PARA KORUPTOR! BERI CONTOH BIAR PADA TAKUT! Penjahat di Indonesia tidak ada takutnya karena hukum bisa dibeli. Saya sangat setuju dengan pemikiran Khairul ini, plus BEBASKAN FISKAL! Maaf, saya juga ikutan emosi nih.
Comment by obyektif — June 8, 2005 @ 6:58 am
Itulah warisan orde baru yang dulu ingin menjadikan negeri kita menjadi negara industri. Akhirnya, tujuan itu gagal di tengah jalan dan yang menjadi korban adalah PETANI
Comment by Pujiono — June 8, 2005 @ 7:02 am
Pendekatan ke petani menurut saya dari dulu memang salah, yang ditekankan hanya tingkat produksi yang tinggi tapi beaya produksi kurang dilihat sehingga untuk mencapai tingkat produksi tinggi petani harus mengeluarkan biaya yang tinggi untuk bibit pupuk dsb, mestinya jika ingin meningkatkan taraf hidup petani dicari metoda dengan margin yang tinggi artinya beaya produksi yang murah dan produksi yang tinggi.
Comment by sueng — June 8, 2005 @ 10:16 am
udah lumrah alam yang kaya bertanbah kaya, yang miskin malin miskin
Comment by rosli — April 13, 2006 @ 4:35 am