Kemewahan Adzan
Yang pernah ada, lalu hilang, tiba-tiba menjadi kemewahan.
Bincang-bincang santai dengan guruku, Prof. Kamil, memberi pencerahan. Beliau punya menantu bule Amerika. Masuk Islam. Sekarang beliau sibuk mencari jam yang bisa adzan setiap masuk waktu sholat.
“Kan beda tuh, kalau orang tidak pernah dengar adzan. Kita yang di sini (Indonesia) dengar adzan terus, sejak kecil, di mana-mana. Di sana (Amerika) kan tidak pernah tuh terdengar adzan. ” Bener sih. Memang terasa begitu waktu dulu pernah sebentar di Jepang. Rasanya kering gitu. Tiap kali perlu lihat jam dan mengira-ngira waktu sholat. Nggak perlu jauh-jauh, kalau sedang di perkantoran Jakarta juga jarang dengar adzan. Balik ke rumah, dengar lagi. Mewah memang.
“Ada nggak jam - atau alat begitu- yang bisa adzan sesuai waktu sholat.”
“Ada Pak, itu yang dipasang di komputer..”
“Bisa nggak, kita orang Islam ini bikin yang alat yang khusus untuk itu. Jadi nggak perlu menyalakan komputer terus.”
“Ada Pak, jam yang bisa adzan.”
“Kan itu hanya bunyi sebagai alarm?”
Iya ya. Nggak kepikir. Kata temen sih ada program adzan yang jalan di smart phone. Saya belum cari. Ada yang tahu alat semacam ini?


