Buat kawanku Hendro Manulife, dan temen-temen lain yang bernasib sama denganku.
Berawal dari pindah rumah, lebih nyaman tapi tidak ada telpon. Akhirnya pasang flexi, pilih yang agak mahal karena sudah langsung bisa internet CDMA. Begitu Flexi terpasang langsung ngulik internetnya. Ternyata gampang-gampang susah. Sambil ngulik baru kutahu, kecepatan koneksinya hanya 14.4 Kbps. Lah, kembali ke jaman 10 tahun lalu! Pilihan lainnya adalah mode paket data yang bisa 70 Kbps dengan resiko biaya bengkak, 3 rupiah per Kb. Masak harus kubayar juga kalau lihat banner iklan?
Kebetulan beberapa waktu sebelumnya teman menawarkan Flexi korporat dengan biaya tetap untuk telpon lokal sebesar Rp 50 ribu per bulan. Jadi akhirnya Flexi kupakai dial-up lokal ke CBN. Lumayan, koneksinya dihitung flat, walaupun CBN nya bayar. Yah, sedikit lebih murah dengan kecepatan yang sama, 14.4Kbps.
Kebetulan juga dua bulan sebelumnya saya mendapat kartu gratis Matrix dari kolega Indosat (tks Bu Nunuk, Pak Agus, Bu Suzanna, Bu Ika), katanya biar dipromosikan karena saya sering ngasih training tentang IT. Kartu dengan nomor istimewa itu nganggur lama karena saya masih pakai seluler operator lama. Connecting the dots! Karena pilihan Flexi masih mengecewakan, maka kucoba saja internet Matrix. Daftar unlimited program, 200ribu sebulan, tambah PPn 20ribu.
Ponselku N9210 ternyata tidak bisa GPRS (kuno sih!), juga punya N3530 yang bisa GPRS ternyata tidak bisa jadi modem! Akhirnya matrix diuji pakai oleh teman, dan kata dia hasilnya bagus. Rata-rata 30Kbps. Lumayan kan dibanding 14 Kbps? Jadilah aku semangat hunting ponsel modem GPRS. Cari yang paling murah tentu saja. Info dari Pak Budi, ponsel Ericsson yang bentuknya gepeng besar cukup bagus buat koneksi. Ternyata yang dimaksud adalah R520m. Kebetulan teman tukang servis ponsel jualan itu barang, dan lama gak kejual. Kuambil saja. Karena kabelnya beli gak dapat, maka aku beli koneksi usb infrared (IrDA). Oke, sampai rumah langsung install infrared. Loh, kok gak connect? Coba lagi, coba lagi sampai semalaman, akhirnya berkesimpulan: hp ini gak beres.
Pilihan berikutnya adalah Siemens ME45. Baru kutahu bahwa memang ME45 lebih bagus GPRS nya karena Class 8 dibanding R520m yang Class 4 (tapi ada bluetooth). Pilihan lainnya adalah Siemens S45, S45i (IrDA) atau M50, C55 (tidak ada IrDA) yang driver modemnya sama dengan ME45.
Dapat ME45, harga 450ribu. Uji coba di tempat teman. Sukses. Pulang dengan semangat 45 segera kupasang itu ponsel di depan usb IrDA. Loh, kok gak connect? Mari terus berjuang. Semalaman kucoba-coba pantang menyerah, eh masih gak konek. Why?
Ternyata usb infrared nya palsu! Tertulis Mobile Action MA-620, isinya ternyata Kingsun SF-620. Walah-walah, ini produk kloning made in Cina betul-betul aspal (asli palsu). (more…)