I start where the last man left off
I start where the last man left off
Thomas Alva Edison
Bahkan ilmuwan besar seperti Edison pun berusaha memanfaatkan hasil karya orang lain sebagai langkah awal riset dia. Jadi mengapa kita malu, takut, bahkan cukup bodoh dengan memulai penelitian mandiri?
Selama ini semua penelitian yang saya lakukan sama sekali tidak menyentuh informasi paten. Yang dilakukan hanya berbasis buku, jurnal, artikel, atau bahkan dengan berpikir keras mencari solusi sendiri. Ternyata hanya orang yang merasa diri super hero (baca: bodoh sekali) yang selalu bangga ketika kembali menemukan roda, alias “reinventing the wheel”. Orang lain sudah menemukan, alih-alih kita manfaatkan eh malah kita berusaha membuat sendiri untuk akhirnya menemukan… roda yang sama! Berapa banyak penelitian kita yang seperti itu? Banyak.
Sebabnya sederhana: belum tahu. Ini ibarat kita buta cara menggunakan search engine Google, sehingga tidak mampu melakukan studi awal dengan benar. Atau bisa menggunakan Google, tapi tidak tahu keyword apa yang perlu digunakan.
Mari kita kaji kembali petuah Ki Hajar Dewantara (anda masih kenal siapa beliau?). Ki hajar Dewantara yang mendirikan perguruan Taman Siswa di Jogja menekankan pentingnya sikap 3N : Niteni, Nirokke, Nambahi. Ini jelas bahasa Java.
Niteni : memperhatikan dengan teliti untuk mengenali ciri-ciri sesuatu
Nirokke : menirukan
Nambahi : menambahi
Tiga langkah tersebut adalah langkah penting transfer pengetahuan. Awalnya kita melihat dengan teliti dan mencatat ciri-ciri dari sesuatu yang kita akan ambil ilmunya. Tahap berikutnya adalah proses belajar dengan mencontoh yang sudah ada hingga kita bisa dengan persis menyamainya. Baru tahap selanjutnya kita bisa menambahkan sesuatu untuk membuatnya lebih bagus dan sempurna. Inilah filosofi yang dipakai Jepang untuk mengejar ketertinggalan dari negara Barat di masa restorasi Meiji dulu. Rumus sama yang kemudian dipakai Cina, Taiwan, India, dan lainnya.
Di jaman internet ini akses informasi sangat mudah, termasuk akses informasi teknologi paten yang dulu sangat sulit didapat. Sewaktu dia belajar paten di Inggris, Helianti Hilman seorang pakar informasi paten menceritakan bahwa suatu ketika kelas belajarnya mengunjungi kantor paten Inggris. Di sana dia menemukan suatu yang menakjubkan, banyak sekali ahli dari perusahaan besar seperti Sony, Toshiba, dan lainnya sedang mempelajari paten-paten. Mereka berusaha menemukan mempelajari, memilih, bahkan mencari celah teknologi dari kompetitor. Dan itu sah-sah saja dalam dunia bisnis.
Selama ini kita mengenal paten hanya untuk perlindungan hukum terhadap peniruan produk. Salah besar! Manfaat informasi paten lebih besar dari sekedar masalah hukum, yaitu :
1. mencegah “re-inventing the wheel”
2. mengetahui perkembangan terkini terhadap suatu bidang teknologi
3. mengetahui patentabilitas suatu penemuan (klaim paten yang ditujukan untuk aplikasi industri)
4. mengetahui strategi R&D dari kompetitor dengan mengetahui produk, pasar, dan negara tujuan yang sedang mereka usahakan
5. sebagai media promosi (diseminasi informasi) hasil kegiatan R&D kepada “prospective licensee”
Yang menarik adalah keuntungan dari akses paten ini bagi negara berkembang. keuntungan itu adalah :
1. informasi paten adalah gratis untuk publik sehingga semua orang bisa belajar teknologi terbaru
2. paten yang sudah expired (sudah 20 tahun sejak tanggal didaftarkan) menjadi milik publik (public domain) sehingga kita bebas menggunakannya. Banyak teknologi ‘kuno’ yang sebenarnya masih sangat bagus buat kita, seperti pembuatan sabun, cat, dll.
3. paten yang masih berjalan pun boleh digunakan gratis asalakan tidak didaftarkan di suatu negara. Misal paten tersebut didaftarakan di Amerika, Eropa, Jepang, Cina, dll, tapi lupa tidak didaftarkan di Indonesia, maka kita boleh menggunakannya GRATIS.
Berikut ini adalah situs-situs penyedia informasi paten gratis yang populer :
1. European Patent Office : http://ep.espacenet.com
2. US Patent Office : http://www.uspto.gov/patft/index.html
3. Japan Patent Office : http://www.ipdl.ncipi.go.jp/homepge.ipdl
4. China Patent Office : http://www.sipo.gov.cn/sipoEnglish/zljs/default.htm
5. WIPO-PBB : http://www.wipo.int/ipdl/en/search/pct
6. Cambia-Biotech Australia : http://www.cambiaip.org
7. Thomson Group (bayar langganan) : http://www.delphion.com
Saya kira sudah saatnya kita berhenti “re-inventing the wheel” dengan sedikit lebih rajin membuka info paten sebelum memulai penelitian. Bagi entrepreneur terbuka kesempatan luas untuk bikin usaha baru dengan teknologi yang sudah expired atau paten yang tidak didaftarkan di Indonesia. Why not to try?
* materi informasi paten dari Workshop Informasi Paten ITB 2005 dengan nara sumber Helianti Hilman , Ahdiar Romadoni, dan Adi Pancoro.



hehe…..pantat gw juga udah dipatenkan dept. hak cipta!
Comment by indra hasyim — August 9, 2005 @ 2:13 am
Pokoknya permudah dengan semua bantuan apapun itu bentuk dan wujudnya he..he..he..
Comment by khairul — September 27, 2005 @ 10:09 am
gimana cara bikinnya,
ehh ini template dari servernya yah,
bisa nda kita buat dewe,
thx
pungka
Comment by pungka — October 18, 2005 @ 8:44 am
Tolong dong saya minta contact nya Helianti Hilman, maaf Beliau ini laki-laki apa perempuan ya? cos namanya kok perpaduan…
Saya mau ngadain seminar tentang teknopreneur, dan mau mengunndang helianti hilman dari RAMP indonesia untuk jadi pembicara.tolong saya,,
Comment by AFRIYANTO PRASTYAWAN — July 5, 2007 @ 3:03 am
informasi dari situs2 hak paten gratis tersebut memang luar biasa banyak, hampir semua barang ada patennya. tapi adakah yang bisa membantu saya untuk memberikan informasi tentang bagaimanakah cara untuk membeli produk yang dipatenkan itu? soalnya saya menemukan mesin pembuat pakan ternak dengan bahan kotoran ayam dengan judul “chiken manure processing apparatus” di www.freepatentsonline.com, adakah yang bisa membantu saya dimanakah saya bisa mendapatkan mesin ini?
Comment by jalu jati — September 8, 2007 @ 3:26 pm