Inspirasi Pagi


November 3, 2005

Lebaran, baju takwa, khotbah politik, dan rutinitas ritual

shalat iedMengapa baju takwa identik dengan Islam, ibadah, shaleh, dan thoat?

Padahal kalau diperhatikan baju takwa besar kemungkinan budaya Cina. Atau mungkin baju melayu? Lihat bajunya Wong Fei Hung, atau para petani Vietnam. Baju koko atau sejenis itu. Para sunan wali songo bajunya gamis model arab. Hanya Sunan Kalijogo yang tampil pede dengan baju lokal, lengkap dengan uceng (ikat kepala)nya.

Suatu ketika ayah sy menganjurkan agar kalau shalat pakailah baju khusus, baju takwa. Kebetulan sy sdg bandel, sy jawab bukannya itu baju Cina? Saya tahu sebenarnya maksud ayah saya adalah supaya bersungguh-sungguh memperlakukan shalat. Yah,ibarat mau ketemu Presiden (yg sulit ditemui) maka umumnya orang memakai baju bagus. Apalagi ini menemui Rajanya para raja, semestinya berlipat lbh bagus. Mungkin karena Allah itu ‘mudah ditemui’ atau ’sdh sering ditemui’ maka kita berlaku biasa-biasa. Ibarat istri presiden, ya sdh biasa secukupnya saja bersikap kpd presiden. Haha.

Pikir-pikir manusia memang makhluk yang dikendalikan emosi, (tepatnya sensasi?). Baju takwa, suara beduk, dll itu menciptakan suasana magis religius. Karena sejak kecil suasana itu yg dihadirkan, maka saat tumbuh dewasa alam bawah sadar kita senantiasa rindu kembali dengan suasana itu.

Khotib shalat Ied kali ini kalau tdk salah adlh pimpinan salah satu jamaah pergerakan. Makanya sesuai dugaan, isinya tentang daulat Islamiyah dan semangat anti Amerika.

Saya punya sedikit pandangan ttg khotbah ini: 1. karena ini khotbah stlh shalat, akan lbh bijak topiknya yg menyentuh semua audiens (yg ringan tapi menyentuh hati), sebab syukur2 semua pendengar pro dg khotib, kalau kontra? sulit bg audiens utk pergi. Topik politik cocoknya utk pengajian dimana org bs memilih datang dan pergi. Khotbah Jumat terutama, jgn bicara masalah berat kecuali membahas dg banyak sudut pandang. 2. saat doa khotib menggunakan kalimat ‘Ya Allah, kalahkanlah kaum kafir’. Setahu sy lbh bijak ‘Ya Allah menangkanlah kami atas kaum kafir’. Ada beda jauh antara dua kalimat doa itu. Yg pertama berfokus pada kalahnya pihak lain, yg kedua pada menangnya pihak kita. Doa yg kedua dicontohkan dlm Quran ‘wan shurnaa ‘alal qoumil kaafiriin’ (dan tolonglah kami atas kaum kafir). Siapa tahu kemenangan itu diraih tdk dg mengalahkan, namun dg hidayah shg org kafir td masuk islam (spt kisah masuknya Umar bin Khattab dan Kholid bin Walid).

Sambil mendengar khotbah, sebagian orang langsung ngebul dg rokoknya. Rasanya khotbah ini masuk rangkaian sholat, jd kurang pas sambil merokok atau makan2. Bayangkan kalau saat khotbah jumat kita juga makan minum. rasanya aneh ya…

si kecilIni foto anak kecil yang sholat tepat d samping saya. Usianya sekitar 4 th. Lucu anaknya, senyam senyum dan sholat dg baik (Sementara itu ada anak lain yg seusianya nangis2 saat sholat berlangsung). Pakai baju takwa, kupluk model cina, dan sarung baru. Di kantong bajunya kelihatan bungkus rokok Marlboro, titipan bapaknya.

dengerin electoneLebaran mungkin lebih menggembirakan bagi anak-anak. Ini saatnya bertemu dengan saudara-saudara sepupunya dari luar kota. Kemana-mana main terus, makan terus, kalau capek ya tidur. Asyik lagi kalau dapat uang ‘angpaw’ dari om, pakde, maupun kakek neneknya. Jaman saya dulu, duitnya jadi mercon cabe rawit, sosdor (roket), dan kembang api tetes yg seterang neon. Main petak umpet, naik pohon jambu, dan main di sungai adalah kegiatan favorit lainnya. Anak sekarang playstation, komputer, dan nonton spongebob.Untuk sensasi main di sawah dan sungai ortunya perlu merogoh kocek untuk bayar acara outbond. Jaman sudah berubah bagi sebagian orang. Ini foto anak2 yg ngumpul di depan electone, rame2 ndengerin musik.

monyetUntuk kegembiraan anak2, topeng monyet pun ditanggap. Yah, hiburan lebaran. Ketika sebagian orang merayakan lebaran dg kumpul keluarga, sebagian msh harus cari uang.

Mengapa orang dewasa mengalami pengurangan nikmat lebaran? Karena orang dewasa sudah dibebani kewajiban-kewajiban. Mudik sdh seakan kewajiban (gengsi nggak nongol). Keliling ke saudara sdh kewajiban (rasanya enak juga kalau kumpul rame2 tp tdk perlu pergi keliling jauh2). Uang angpauw jd kewajiban. Ngobrol basa-basi jd kewajiban. Nyediain kue dan ketupat pun jadi kewajiban. De el el, semua ‘menjadi’ kewajiban.

Memang ‘terpaksa memilih’ berbeda dengan ‘bebas memilih’. Karena tekanan kultural, yang awalnya bisa bikin heppi akhirnya berubah jadi rutinitas yang dihindari tak elok dijalani pun kurang nikmat. Tampaknya anak kecil lebih merdeka untuk memilih menikmati lebaran….

Mari kita nikmati lebaran dengan lebih merdeka…. Caranya? Ya nikmati saja mengikuti aliran energi silaturrahmi, mumpung semua orang sdg siap menerima permohonan maaf kita. Keliling2 se ‘enjoy’nya. Ikut gembira saat yang lain juga gembira, karena momentum suasana ini hanya terbit setahun sekali, sayang kalau dilewatkan…

richlife - khairul @ 1:10 pm

6 Comments »

    Gravatar Image
  1. Yup. enjoy aja.. kata salah satu produk rokok

    Comment by Imponk — November 4, 2005 @ 5:32 pm

  2. Gravatar Image
  3. Bener ringan tapi asyik….

    Comment by ayes — November 26, 2005 @ 4:58 am

  4. Gravatar Image
  5. enaknya jadi anak-anak, mungkin kita sudah lupa jadi anak-anak ya…?

    Comment by lelita — December 19, 2005 @ 4:17 am

  6. Gravatar Image
  7. kalo bedug … itu yang bawa Laksamana Cheng Ho dari China :)

    Comment by rochmad setyadi — January 24, 2006 @ 1:55 am

  8. Gravatar Image
  9. artikel ini sangat baik, perlu dibaca…….OK

    Comment by ferry hdiyanto — April 19, 2007 @ 4:04 am

  10. Gravatar Image
  11. menurut pendapat saya ..gak ada salahnya kita berpoligami.asalkan kita tau menjaga ,dan mengerti akan kewajiban kita ,karena poligami adalah lebih baik .dari pada kita selingkuhan …ok ….

    Comment by dimas_adjie — May 1, 2007 @ 1:36 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here