Pro kontra UN
Ujian nasional menimbulkan pro kontra. Saya sendiri berpendapat, merancang alat evaluasi itu sungguh sulit. Namun di lain pihak menjadikan suatu alat evaluasi untuk ‘melabel’ (dengan konsekuensi) seseorang memang dilematis.
Saya cenderung setuju dengan model pesantren. Semua siswa lulus. Nilai apa adanya. Biarkan masyarakat yang menilai. Kenapa lulusan pondok pesantren Gontor cukup dikenal? Apakah karena ijazahnya?
Kalau seseorang pintar matematika, bahkan jenius, lalu bahasa inggris jeblok, apakah layak disebut bodoh? Kalau sesorang pintar basket, tapi KO dalam matematika, apakah disebut bodoh? Menurut konsep Multiple Intelligence, anak yang jago basket tersebut ‘cerdas kinestetik’.
Kalaupun sebagian nilainya tinggi, dan sebagian jeblok, yah tulis apa adanya. Nanti yang ngrekrut kerja kan juga bisa menilai sendiri. Misalnya, kalau ada rekrutmen pegawai misalnya untuk tugas menghitung teknik yang rutin, apakah bahasa Inggrisnya harus tinggi? Bukankah itu terserah kepada yang merekrut?
Berita tentang anak pintar yang lulus seleksi masuk PT tapi ternyata jeblok salah satu UN nya perlu menjadi renungan. Apa sih tujuan pendidikan? Bukankah semestinya pendidikan untuk menemukan dan menumbuhkan potensi terbaik siswa, bukan menyeragamkan mereka?
Komnas HAM Klarifikasi Standar kelulusan? PT tolak siswa Tidak menghargai proses Urung ke jerman


