Permadi, Soros, Kiyosaki, dan teori ekonomi
Apa yang sama dari mereka : ramalan.
Permadi meramal bahwa musibah berikutnya di Indonesia akan terjadi di Jakarta. Soros meramalkan pada awal 2005 bahwa ekonomi Amerika akan lesu tahun 2007. Kiyosaki juga meramal Amerika akan kewalahan dengan para pensiunan generasi ‘baby boomer’ yang akan mulai menarik tabungan pensiun mereka di tahun 2009/2010.
Siapa pun di antara mereka yang benar, Indonesia jelas akan mengalami imbas ekonomi yang dahsyat. Bahkan bisa terjadi krisis ekonomi tahap ke dua.
Negara ini adalah negara yang juara dalam hal utang luar negeri. Guncangan ekonomi dunia - atau anggap hanya ekonomi Amerika - dengan serta merta akan mengguncang ekonomi Indonesia. Itu berarti saya juga akan terkena imbasnya.
Saya berniat sengaja menjadikan tulisan ini sebagai catatan rencana menghadapi ketidakpastian ekonomi. Menurut buku-buku yang sempat dibaca, ketidakpastian dunia bisnis akan berakibat masyarakat menyimpan uangnya. Yang paling lazim adalah menyimpan di bank, valas, properti, atau logam mulia. Menurut anjuran salah satu buku, pada kondisi valas sedang tidak stabil maka penyimpanan yang relatif paling aman adalah emas. karena itulah saya mulai mengamati benda aneh satu itu yang manfaatnya kurang jelas, tapi diminati banyak orang.
Emas memang menjadi backup dari peredaran uang yang dikeluarkan suatu negara. Awalnya jumlah uang beredar harus dibackup oleh emas dengan jumlah yang senilai. Namun suatu ketika aturan ini diperlonggar menjadi satu emas menanggung sekitar uang 3 kali lipat nilainya. Tentunya jaminan negara atas uang yang beredar menjadi rentan bila tiba-tiba semua masyarakat mengembalikan uang tersebut dan minta diganti emas. Karena itu lazimnya nilai mata uang sebuah negara bergantung pada kredibilitas negara itu (pemerintah) yang menjaminnya. Pelan-pelan biasanya nilai uang yang beredar terkoreksi karena inflasi.
Jadilah emas hingga sekarang menjadi ukuran sesungguhnya sebuah uang. Kabarnya harga dinar seekor ayam 1400 tahun lalu akan sama bila dinilai dengan dinar sekarang. Demikian pula ongkos naik haji dari dulu hingga sekarang akan tetap nilai dinarnya. (katanya sih…)
Sekarang bicara yang lebih serius. Andaikan ekonomi memang jatuh terpuruk, maka terjadilah perpindahan kekayaan besar-besaran di masyarakat. Yang sudah siap akan mendapatkan keuntungan dari yang tidak siap.Saat krisis moneter biasanya harga properti jatuh karena bunga tinggi dari bank menyebabkan kredit properti sangat mencekik nasabah. Dengan demikian bisnis properti menjadi lesu. Saat itulah para investor yang memiliki uang tunai akan mengakuisisi properti sebanyak-banyaknya seperti kejadian masa krisis moneter dulu. Memang rasanya sangat sulit menjual rumah dengan harga wajar saat itu, karena kebanyakan masyarakat umum lebih suka menabung di bank maka mereka yang punya cukup uang segera mengakuisisi properti yang berharga. Saya dulu termasuk kelompok masyarakat yang ikut menjual -untunglah tidak ada yang beli!
Karena masa krisis adalah jendela kesempatan untuk mendapatkan bargain menguntungkan (bagi yang siap dengan dana tunai), maka ada baiknya kita bersiap-siap sebelum krisis itu terjadi. Saat ini logam mulia adalah komoditas yang ramai diburu investor. Saya sih pingin ikut, sayang duitnya terbatas.
Rekan saya, Pak Tri, pernah bercerita tentang temannya yang terus membeli emas (berapa pun harganya) sebelum krismon. Saat krismon harga emas ikut melambung mengikuti dolar. Maka dia melepas emasnya dan kemudian membeli properti investasi yang cukup banyak di Balikpapan. Memang harga properti terlambat ikut naik, sehingga hanya naik sekitar 2 kali lipat, sementara dolar dan emas naik hingga 5 kali lipat. Penting diketahui, emas untuk investasi berbentuk koin atau batang yang disebut Logam Mulia. Buka yang berbentuk perhiasan. Untuk emas berbentuk perhiasan nilai jualnya sangat jatuh karena ongkos pembuatan hiasan tidak dihargai. Sedangkan emas Logam Mulia (LM) nilainya relatif tetap, seperti halnya kita bertransaksi valas.
Kalaupun ramalan Permadi, Soros, maupun Kiyosaki itu meleset semua, yang pasti kita sudah punya tabungan logam mulia. Peningkatan harga logam mulia emas sejak krismon 1997 adalah sekitar 7-8 kali lipat (dari sekitar 25ribu menjadi sekitar 190ribu per gram). Sedangkan kenaikan valas dolar adalah sekitar 4 kali lipat (dari 2400 menjadi 9000). Kalau diperhatikan dengan seksama, sebenarnya daya beli emas relatif tetap namun dolar lah yang melemah, apalagi si uang rupiah kita itu.
Kalau Anda setuju dengan analisis ini (saya sih tidak percaya Permadi, tapi percaya Soros -paling tidak dia punya dana besar untuk ikut mewujudkan ramalan dia itu), mari kita bersiap-siap dan mulai menabung dengan emas (mengikuti ‘kegilaan’ manusia di seluruh dunia yang terpesona dengan benda-entah-apa-manfaatnya itu).
PS : catatan ini ditulis untuk dikaji lagi 2-3 tahun mendatang. Apakah resepnya bener, atau justru layak menjadi tertawaan…. Paling enak memang Freeport, karena dia seperti mengambil uang dari dalam bumi yah…



Tulisan anda tidak di-backup dengan data dan analisis yang mendalam. Anda berinvestasi berdasarkan pengalaman Pak Tri dan ramalan Soros. Anda mengatakan “Kalau diperhatikan dengan seksama, sebenarnya daya beli emas relatif tetap”, wah … yang benar saja. Seiring dengan melemahnya dollar beberapa tahun terakhir ini, harga emas dan komoditas yang lain melambung tinggi sekali. Jadi apanya yang “relatif tetap”? Hati-hati bung!
Akankah harga emas naik terus? Siapa yang tahu? Kalau anda beli emas sekarang (yang harganya sudah tinggi), dan kemudian 2-3 tahun mendatang harganya tinggal separuhnya gimana? Ingat: “past performance does not gurantee future performance”.
Bottom line: berhati-hatilah dalam menginvestasikan rupiah anda! Jangan langsung percaya omongan orang lain hanya karena orang tersebut “pernah” sukses. Tahukan anda George Soros juga “lost billions of dollars in currency bets”? Kerjakan PR anda dulu bung (sebelum berinvestasi dan menulis!)
Comment by Sugiarto — June 6, 2006 @ 4:16 pm
mungkin Soros tdk investasi emas, sy yakin dia lebih ahli dalam memilih instrumen investasi. saya hanya merujuk RAMALAN munculnya krisis ekonomi.
kalau harga emas turun, tentunya nilai rupiah menguat, yang berarti harga barang2 juga turun. jadi daya beli emas relatif tetap.
tulisan ini sebenarnya lebih fokus pada konsep ‘hedging’ daya beli, bukan investasi. menjadi investasi bila nilai hedging pada suatu kondisi tertentu ternyata membuat daya beli ‘meningkat secara virtual’, seperti misalnya saat daya beli emas seakan naik 4x lipat sementara harga properti seakan naik 2x lipat. pada kondisi lain mungkin daya belinya tetap, jadi keuntungan investasi tidak ada.
pegang rupiah atau valas saat ini (dengan kemungkinan resesi dunia) tampaknya lebih riskan (mungkin tidak sih bagi Anda). di lain pihak logam mulia memang tdk se likuid uang. transaksi dan penyimpanannya repot.
tulisan inipun sebagai catatan utk kelak dikaji lagi, apakah resep ini cukup cespleng, atau saya perlu cari resep lain yang lebih cespleng. yah, daripada tanpa resep sama sekali…
Comment by khairulu — June 7, 2006 @ 12:51 am
Saya kagum dengan tulisan, yang dapat dimengerti oleh orang awam sekalipun, bahkan yang tidak mengerti sama sekali tentang hal ini. Saya cukup pelajari dalam 1 minggu, dan saya ambil resiko untuk spekulasi membeli LM di harga US$550/oz, pada waktu mencapai US$ 730 saya lsg jual walaupun dibawah harga internasional sedikit. Memang mgkn krn faktor keberanian saya untuk spekulasi. Kita jangan berteori terus menerus, jangan analisa terus menerus, semuanya tiada guna kalo tanpa keberanian untuk spekulasi……..dan sekarang saya lagi mengincar property dari hasil aksi ambil untung saya di LM dalam 2 bulan ini
Comment by Danny — July 29, 2006 @ 2:15 pm
selamat buat Danny (3). Kiat beli LM dan properti agak beda. Pendapatan LM disebut ‘portofolio income’ yang dihasilkan dari selisih harga layaknya saham. Saya kira akan lebih nyaman untuk menggunakan jangka waktu 3 tahun dalam pengelolaan LM ini (time-frame jangka menengah/panjang). Tapi kalau bisa terus memonitor naik-turunnya LM ya oke juga.
Kalau properti pendapatan didapat dari menyewakan, disebut passive income karena barangnya tidak dijual lagi. Saat paling tepat menurut saya setelah bunga bank menjadi tinggi (diperkirakan mulai 2007) yang menyebabkan pasar properti lesu. Karena lesu maka akan banyak tawaran tersedia di pasar, sementara pembeli dengan uang tunai sedikit. Akan ada banyak pilihan.
jadi mungkin akan baik kalau ditabung dulu sambil cari-cari properti yang paling menguntungkan. Biasanya saya punya standar ROI 12 persen, yg bisa didapat kalau cari sambil santai. Properti di bawah nilai 300jt biasanya sulit utk mendapat ROI 12 persen, tp tetap ada kalau sabar mencari. Properti di atas 300jt banyak yg bisa mencapai 12 persen, karena memang jarang pembeli. Properti yg saya maksud di sini adalah jenis properti kost atau los toko. Kalau properti rumah tinggal sulit utk mencapai ROI 12 persen.
Di luar semua itu saya setuju dengan Danny, yang penting : take action! Percuma ilmunya sudah banyak tapi nggak ambil aksi, gitu kan ya…
Comment by khairul — July 30, 2006 @ 11:14 pm
bagus saya bisa belajar tentang bisnis disini
Comment by rian — December 30, 2006 @ 1:50 pm
Banjir di-Jakarta pada bulan Februari 2007 ini, apakah membuktikan bahwa si-Permadi ini walaupun kebanyakan ngawur tetapi kadang-kadang bener juga ramalannya ?
Comment by Budi Bundo — February 8, 2007 @ 4:30 am
Membaca tulisan anda yang mendukung Soros berarti anda yahudi zionis,Ariel Sharon,berwajah Melayu. Kita tidak boleh mengambil ilmu-ilmu yang tidak pernah diajarkan oleh nabi SAw, karena “man tasyabbah bi qoumin fahuwa minhum”> Soros telah memporakporandakan usaha muslim yang ingin menegakkan kalimatullah, dan makar kafirin terus berkembang, dan celakanya mas terjebak konspirasi zionis ini. la izzata illa bil islam, khan?
Comment by ahmed shahi kusuma — June 7, 2007 @ 1:39 pm
tulisan anda saya akui memang bagus.dasar pemikiran anda juga baik.tapi dalam menuliskan suatu tulisan anda perlu memaparkan apa sebenarnya tujuan tulisan anda berikut data data pendukung dari analisa saudara terhadap teori orang lain.
Comment by andrey — August 2, 2007 @ 4:31 am
Waduh, tuduhan komentar nomor 7 kepada Bung Khairul ini serius bener nih! Sebagai orang yang mengenalnya sejak 24 tahun yang lalu, insya Allah saya bisa bilang kalau Anda ketemu Bung Khairul yang asli, insya Allah Anda akan istighfar sudah menuduhnya dengan keji…
Comment by Bapaknya Alima — August 6, 2007 @ 2:22 pm
buat ahmed shahi kusuma
“Membaca tulisan anda yang mendukung Soros berarti anda yahudi zionis,Ariel Sharon,berwajah Melayu….”
Saya membaca komentar2 Anda di blog saya ini. Menurut saya komentar Anda mencerminkan kebencian dan kekesalan kepada non-muslim (atau lebih tepatnya orang yang tidak se-ide dengan Anda). Pilihan itu tentu terserah kepada Anda. Beragama itu sebuah proses perjalanan dan pencarian. Mungkin perjalanan beragama saudara Ahmed memang mengarah ke sana.Saya pun pernah mengalami kebencian seperti yang Anda rasakan itu, sampai kemudian saya punya pemahaman yang baru.
Mengenai Yahudi, kita perlu menanggapinya tanpa muatan rasialisme. Salah seorang istri Rasulullah yang bernama Shafiyah binti Huyai adalah wanita suku Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak membenci ras Yahudi, namun membenci ’sikap Yahudi’ yang ditujukan untuk sikap pembangkangan, kebohongan, bahkan pembunuhan terhadap nabi-nabi bangsa Israel. Kalaupun wajahnya Melayu, tapi sikapnya seperti ’sikap Yahudi’ tentu patut pula kita cela.
Tentu saja saya merujuk Soros bukan karena dia Yahudi, tapi karena punya pengalaman lama dalam masalah keuangan global. Pembaca lain saya kira dengan gamblang bisa melihat hal ini.
Mudah-mudahan pembaca yang budiman bisa mengerti bahwa komentar yang saudara Ahmed Shahi Kusuma tuliskan itu bukan cerminan wajah umat Islam secara umum. Saya sendiri tersenyum dikomentari sebagai yahudi zionis berwajah melayu…
Saya tidak tersinggung atau marah, karena saya memang tidak seperti itu.
” Soros telah memporakporandakan usaha muslim…”
Setahu saya, sebelumnya Soros memporak-porandakan Poundsterling Inggris (bukan negeri ‘muslim’) karena lemah terhadap Euro, dan selanjutnya menghantam Asia Timur (termasuk Thailand, Korea, dsb, yang mayoritas juga bukan muslim) melalui krisis mata uang Bath Thailand.
Catatan : pada bulan Juli 2007 Amerika mengalami guncangan finansial karena masalah ’subprime mortgage’(pinjaman hipotek rumah). Diperkirakan 1,7 juta keluarga Amerika akan kehilangan rumahnya akibat hal tersebut. Eropa dan Jepang (dan juga Bank Indonesia) mengucurkan dana untuk meredam guncangan keuangan global akibat guncangan ekonomi Amerika tersebut. Emas naik menjadi sekitar 202 ribu rupiah per gram. Mudah-mudahan ini fluktuasi sementara (karena saya masih ingin beli emas lagi).
Saya pribadi bersiap-siap menyambut siklus krismon 10 tahunan (diperkirakan antara 2007-2010). Sayang sekali, tabunganku nggak banyak. Ibaratnya sudah melihat mendung akan turun hujan, sayang payungnya kecil.
Comment by khairulu — August 19, 2007 @ 4:16 pm
yes, aku mau jual mobilku dan saya beli emas. lalu kalau emasnya naik harganya, maka akan saya tutupi utang2ku di bank.yes…yes tq atas sarannya.
Comment by udi basuki — November 6, 2007 @ 7:03 am
05 November 2007, 11:08 (dibuat oleh Udi Basuki, SE - Manajer CPP Labuan dari Kanwil Jakarta)
Masa tayang sampai dengan: 04 Januari 2008, 11:08
Harga Emas : Indikator perang Perebutan Faktor Produksi
Bismillaahirrohmanirrohiiim,
semoga Allah melimpahkan Inspirasi dan energi bagi Insan2 Pegadaian dalam menguatkan ekonomi bangsanya.
kenaikan harga emas yang saya pantau selama 10 tahun lewat kitco, bukan sekedar suplay and demand belaka. namun disini yang berbicara adalah trust.seberapa lama dan jauh alat tukar menukar barang dan jasa ataupun faktor produksi di pertukarkan dengan menggunakan emas.
selama belum ada materi lain yang mampu menggantikan “trust” emas, maka emas akan mengalami kenaikan “harga” terhadap mata uang lain.
kenaikan ” harga” emas adalah barometer semakin langkanya jumlah faktor2 produksi yang tersedia. semakin terbatas jumlah faktor produksi, semakin banyak pihak2 yang memperebutkan faktor produksi, maka akan semakin naik “harga” emas terhadap mata uang lain.
ibarat pedang, emas adalah pedang untuk memperebutkan faktor produksi.emas adalah pedang yang bermata baja murni dengan tingkat ketajaman diatas besi biasa(dollar),tembaga (euro), nikel atau logam lainnya.
semakin bermutu tingkat ketajaman pedang, maka semakin banyak yang mencari , untuk dipakai”berperang” dalam memperbutkan faktor-faktor produksi.
ketika kita memakai pedang yang bermata tumpul, maka harapan untuk menang dalam memperebutkan faktor produksi semakin jauh.
termasuk dalam korporasi sendiri, jika cadangan /modal sendirinya memakai pedang tajam,maka akan semakin kuat terhadap hantaman inflasi ataupun krisis ekonomi lainnya.
dewasa ini,doktrinisasi menabung emas mulai dilunturkan oleh propaganda2 yang menghendaki faktor2 produksi berpindah tangan dari masyarakat ke kapitalis.
seperti pembelian barang2 konsumtif yang harganya ganjil : misal ikan louhan yang harganya timggi, bunga2 “aneh” yang berharga tinggi, ataupun produk2 lain yang membuat masyarakat lelah dalam berpikir investasi yang riil.bahkan propaganda tersebut cenderung membodohkan masyarakat dalam meraih faktor2 produksi yang sangat diperlukan dalam kehidupan.
petani dibikin miskim, harga pupuk ,obat dan bibit mahal,harga beras dihancurkan harganya, sehingga petani tidak punya saving emas semakin miskin,dan akhirnya , sawahnya/faktor produksinya dijual.
inilah tujuan akhir kapitalis, menjauhkan rakyat /interpreuner memiliki saving emas , sehingga pedangnya tumpul untuk berperang dalam memperebutkan faktor produksi,dan akhirnya seluruh faktor produksi dikuasai oleh kapitalis(yang lebih tahu strategi berebut faktor produksi).
semakin rendah cadangan emas/saving emas di masyarakat, semakin rawan terkena bahaya inflasi ataupun resesi ekonomi.
pegadaian dengan 700 jaringan cabang,mempunyai peluang yang strategis untuk: mengedukasi investasi emas, memfasilitasi saving emas, sehingga pertahanan ekonomi masyarakat semakin kuat.
kenaikan harga emas juga suatu metode untuk melemahkan saving emas dimasyarakat. yang target akhirnya, adalah mambuat barrier entry bagi masyarakat dalam memiliki faktor produksi. karena daya beli uangnya semakin lemah terdepresiasi emas.
ketika harga emas naik, maka masyarakat mengkonversi emasnya ke dalam mata uang,yang ironisnya, mata uang itu sendiri nilainya terdepresiasi oleh emas/turun nilainya,.
uang tersebut kemudian didepositokan untuk motive memperoleh pendapatan bunga,yang ironisnya, tingkat kenaikan bunga tergerus oleh tingkat inflasi.
sehingga daya beli uang terhadap faktor2 produksi semakin lemah.menanglah yang memegang saving emas dan mempunyai cadangan yang cukup untuk membeli faktor produksi.
emas sebagai pedang yang bermata tajam untuk berperang memperebutkan faktor produksi , terbukti kebenarannya disini.
tunggu apa lagi????
“…dalam peperangan, peluang lebih diutamakan dari keberanian” by Vegetitus,Panglima Perang Romawi
Comment by udi basuki — November 6, 2007 @ 7:08 am
saya setuju dengan nilai tukar emas sebagai nilai tukar sejati. sebagai muslim saya percaya ada satu hadist nabi muhammad yg kurang lebih artinya (maaf kalau salah, mohon koreksi), Abu Bakr ibn Abi Maryam meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah salallaahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain dinar dan dirham.” (Masnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).
nah yang ini saya tidak tahu “apakah sama emas dengan dinar?”
Comment by siswanto — January 22, 2008 @ 3:43 pm
Saya sarankan beli GOLD DINAR, DINAR EMAS beneran, bukan Dinar-dinaran !
Harga 1 Dinar Des 2006 cuma Rp. 500,000 an
harga 1 Dinar Juli 2007 sdh Rp. 830,000
Harga di Akhir Okt 2007 sdh Rp. 980,000
November akhir 2007 sdh Rp. 1,070,000.-
januari 2008 sd Rp. 1,190,000.-
Tidak terhalang Rejim yg berkuasa di suatu negara, nggak pandang situasi ekonomi, apalagi politik…Ini merupakan mata uang terkuat di Alam Semesta, karena Allah yg menjamin…..Ashabul Kahfi tertidur 300 taun masih bisa menggunakan uang peraknya apalagi EMAS , 2000 tahun lebih dipakai sejak jaman Julius Caesar, sebelum Jesus lahir.
Beli di Dinar Club keuntungannya
1. Ada sertifikate Aneka Tambang Resmi
2. Harga bebas PPN 10 % tidak seperti di Antam
3. Jual beli sesuai harga Emas Dunia, BUKAN KAYA DI TOKO eMAS
Hubungi Fahmi Idris 0813 1600 4123 atw 021-94209320
http://www.sellbuydinar.blogspot.com
Comment by SellBuydinar — February 26, 2008 @ 6:16 am
web recommended
Comment by ahzakiw — June 26, 2008 @ 5:47 am
Wah bener juga tuh ramalan Soros, walau terlambat 1 tahun, tapi terbukti bahwa ekonomi AS rontok bulan Oktober 2008.
Comment by Ali — October 11, 2008 @ 11:40 am
saya sebagai agen emas di pasar baru toko AANAM menyarankan emas sebaiknya di bagi bagikan kepada fakir miskin,supaya pemerataan ekonomi berjalan baik
Comment by Lie go nam — November 26, 2008 @ 4:03 am
hhe…gak percaya permadi..???
percaya diri sendiri aja kadang kita susah….yaaa tooo.??
Comment by Ando — June 7, 2009 @ 6:51 am