Polisi dan Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak beradik?
Teman saya di Salman diberi ujian yang sangat berat dari Allah, semua putranya (3 orang) meninggal serentak pada hari Jumat kemarin. Saya turut berduka dan simpati yang mendalam kepada teman saya itu. Beberapa hari ini saya sering tercenung, bagaimana beratnya dia menanggung ujian tersebut? Bagaimana menghadapi rumah yang tiba-tiba sunyi dari tawa dan tangis anak-anak? Ya Allah ya Rabbi, kuatkanlah hatinya dengan kesabaran dan keimanan.
Perasaan saya terus galau beberapa hari ini tiap kali teringat musibah itu. Sampai tiba-tiba siang tadi saya membaca harian Pikiran Rakyat, dan saya sangat terpukul. Judul beritanya kurang lebih adalah “Tiga bocah kakak beradik dibunuh ibunya?” Masya Allah, dalam kondisi menanggung duka, keluarga teman saya itu sekarang diteror oleh polisi dan pers. Tanpa menunggu lewatnya masa berduka sedetikpun!
Polisi -yang menurut saya bertindak bagai pahlawan kesiangan tak diundang- merasa bertanggungjawab untuk mengusut kejadian naas tersebut. Karena itu istri teman saya diinterogasi. Hasilnya, menurut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) si ibu mengaku telah membunuh anaknya! Masya Allah!
Saya, yang mengenal langsung teman saya itu, menjadi geram, jengkel, sedih, marah. Saya tidak terima dengan perlakuan seperti itu. Semestinya kalau polisi berempati dia akan memberi waktu kepada keluarga yang ditimpa musibah itu. Semestinya mereka sadar, menginterogasi seseorang yang sedang dalam kondisi kejiwaan terguncang tentulah jauh dari valid. Bisa jadi menjawabnya asal-asalan, atau salah berbicara. Saya menduga BAP tersebut bias, bisa karena penjawabnya sedang kurang sadar, atau karena penanya mengarahkan jawaban, atau bahkan penanya sembarang menyimpulkan. Bukankah siapa yang menulis, dia yang memegang kendali? Jawaban seperti apapun akhirnya akan menurut kepada siapa penulisnya.
Misalkan Anda sedang stress berat karena anak Anda meninggal mendadak (maaf, ini cuma andai), mungkinkah Anda menjawab pertanyaan para polisi yang tidak empatik itu dengan pikiran jernih? Atau, andai si ibu itu teman Anda yang mengalami musibah luar biasa dengan meninggal anaknya, lalu dia berkata, “Saya membunuhnya… saya membunuhnya…” yakinkah Anda bahwa itu adalah suatu bentuk ekspresi penyesalan mendalam dari seorang ibu yang sedang terguncang jiwanya, dan BUKAN BERARTI memang membunuh?
Dugaan terkuat saya adalah : si ibu melakukan tindakan (misalnya memberi obat atau melakukan tindakan perawatan) namun ternyata berakibat fatal, karena kebetulan beberapa hari itu ketiga anak tersebut sakit demam. Tentu ada banyak hipotesis lain, namun saya berpegang pada beberapa hal mendasar :
- saya kenal betul betapa alimnya teman saya itu (si suami) sehingga peluang terbesar dia adalah memilih istri yang mirip karakternya
- ketiga anak itu sakit beberapa hari sebelum meninggal
- mengingat karakter suami (yang tentu mempengaruhi iklim kehidupan rumah tangga) saya merasa mustahil ada niatan membunuh dalam diri si ibu
Saya menduga ekspresi si ibu bahwa dia membunuh anaknya adalah ‘asumsi si ibu itu sendiri’ bahwa karena tindakan yang dia berikan (pemberian obat atau tindakan perawatan) ternyata berakibat fatal bagi semua putranya itu. Sangat wajar bahwa perasaan bersalah tersebut muncul menjadi ekspresi ingin menanggung semua beban tanggung jawab atas kematian semua putranya tersebut.
Dan saya menjadi sangat geram hari ini membaca judul di koran yang sangat tendensius dan memojokkan. Sepertinya tak ada simpati sama sekali atas musibah besar yang melanda keluarga teman saya itu. Berita itu seakan-akan bukan lagi dugaan, dan tidak ada pernyataan pengimbang dari pihak keluarga. Berita tersebut berat sebelah! Ini sepenggal cuplikan berita di Pikiran Rakyat :
Namun Adardam belum bersedia membeberkan ihwal kronologis kejadian, termasuk soal modus dan motif yang melatari pembunuhan itu. “Saya takut salah. Benar klien kami sudah mengaku membunuh ketiga anaknya. Tapi, bukti-bukti lain yang mendukung ke arah tersebut belum ada,” katanya.
Kata-kata ’sudah mengaku’ di situ maknanya apa? Apakah maksudnya setuju dengan pemikiran penanya?
Polisi masih enggan mengungkapkan modus dan motif pembunuhan. Berdasarkan penelusuran, polisi menduga kuat ketiganya dibunuh dengan cara dibekap menggunakan bantal. “Bahkan ada indikasi, sebelum dibekap, tersangka mencekik korban. Untuk jelasnya, kita tunggu hasil autopsi,” ujar sumber “PR” di Mapolresta Bandung Timur.
Saya menganggap pernyataan itu adalah dugaan polisi yang diberitakan ’seakan-akan kesimpulan sementara’. Si sumber “PR” itu memang sudah meneliti atau cuma duga-duga? Saya semakin sedih saat makam ketiga putra teman saya itu dibongkar kembali atas dugaan BAP tersebut. Padahal jelas-jelas pihak keluarga tidak setuju dengan otopsi.
Saya mengungkapkan hal ini karena merasa hal tersebut sudah menjurus menjadi teror kepada keluarga teman saya. Saya melihat pers juga kini seperti kehilangan etika dalam menyajikan berita, terutama yang berkaitan dengan musibah. Apa yang diberitakan pers (dan juga polisi) tak jarang justru memperkeruh hati, menimbulkan kecemasan, memunculkan prasangka-prasangka, yang ujung-ujungnya ternyata … tidak berguna!
Mari kita cermati cara pers menyajikan judul,
Tiga bocah kakak beradik dibunuh ibunya?
Judul ini tendensius untuk mengekspos BAP polisi tentang pengakuan pembunuhan.
Bagaimana kalau judulnya diubah menjadi begini,
Polisi menyatakan tidak ada bukti pembunuhan.
atau Pengakuan ibu korban tidak bisa dijadikan bukti mengingat kondisi psikologisnya.
Tentu saja judul alternatif yang saya usulkan jauh dari “nilai jual infotainment”!
Coba saja, apakah judul yang saya pasang untuk tulisan ini “Polisi dan Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak beradik?” akan membuat nyaman Anda pak polisi dan pak wartawan? Saya tegaskan, judul itu hanya dugaan saya! Dan saya yakin dugaan yang disampaikan seakan-akan ‘kesimpulan’ tersebut akan menimbulkan perasaan tak nyaman bukan? Kalau Anda tidak nyaman dengan judul itu, bagaimana dengan teman saya (dan seluruh kerabatnya) ketika membaca judul dan berita kalian?
Pak polisi dan pak wartawan, bisakah Anda turut berempati dengan musibah teman saya tersebut? Bisakah melakukan penyelidikan tanpa menciptakan teror semacam ini? Bukankah semua acara interogasi, otopsi, menjadikan tersangka, dll, bahkan sampai menambahkan dengan opini dari dokter ahli jiwa, itu akan menambah berat musibah keluarga mereka? Dengan ini saya sampaikan, saya mengajukan keberatan dan protes terhadap cara pemberitaan musibah teman saya itu.
Jika betul pak polisi dan pak wartawan melakukan ini hanya untuk “cari-cari kerjaan dan sensasi”, maka saya bilang perbuatan kalian itu sungguh keji! Laknatullah ‘alaikum! (karenanya semoga Anda tidak melakukan hal keji itu)
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka , karena sebagian dari pra-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al Hujuraat 49 : 12)



saya juga merasakan keprihatinan yang sama
kurang tahu juga kalau soal polisi,
tapi untuk pers, saya kesal kl ada berita yang mengeksploitasi penderitaan orang lain
pers juga cenderung menurunkan berita apa adanya, apa yang dikatakan orang langsung dianggap kebenaran tanpa menyelidiki terlebih dahulu, karena takut keduluan oleh media saingan nya
Comment by ananta — June 14, 2006 @ 1:48 am
Titip rasa duka saya yang mendalam atas musibah yang menimpa keluarga pak Iman. Semoga beliau dan juga istri serta keluarga besar diberi ketabahan.
Comment by hanum — June 14, 2006 @ 6:12 am
kalau saya baca beritanya sih menurut saya cukup berimbang. artinya tidak hanya mengeksploitasi satu sisi saja, tapi juga pendapat yang lain (misal soal polisi yang masih bungkam dan kuasa hukum yang belum berani berkomentar lebih lanjut). Menurut saya, karena Mas Khairul dekat dengan keluarga korban, merasa apa yang diberitakan oleh pers dan yang dilakukan oleh polisi sebagai suatu tindakan yang tidak adil. Tapi menurut saya, pikiran rakyat tidak berlebihan kok (mungkin ada media yang cenderung untuk mengeksploitasi suatu berita). Judulnya juga tidak agitatif, tapi bersifat retoris (pertanyaan), belum menyimpulkan sesuatu.
Menurut saya, polisi dan pers memang harus bersikap cepat dalam menangani kasus. Serba salah juga, nanti dibilang kok ada kasus tidak ditangani atau tidak diberitakan, yang disalahkan polisi/pers. Kalau segera ditangani dibilang kurang adil dll dlsb … apalagi kalau menyangkut keluarga/teman sendiri.
Lepas dari itu, saya cukup prihatin dengan musibah yang terjadi ini. Bagaimanapun orang bisa khilaf. wassalam
Comment by wikan — June 14, 2006 @ 9:13 am
bisa dimengerti kegundahan pihak yang berduka.
tapi memberi waktu sebelum mengadakan penyelidikan bukanlah hal yang
wajar, sebab tugas polisi adalah mengumpulkan bukti secepat mungkin, dan
apakah bukti itu akan menjadi bukti bahwa ybs benar atau salah adalah
urusan pengadilan.
Comment by Eep — June 14, 2006 @ 9:42 am
itu bukan alasan jadiin stess/depresi apapun penyakit kejiwaan itu untuk kita berbuat tidak baik thd sesama manusia
Bukannya diri ini menjadi picik ato sinis ketika membaca berita tsb, terlepas dari benar ato tidaknya headline news tsb ada blow-up/tlalu berlebih2an. But u can have the empathy to them. Them who lost their beloved ones in a cruel way.
..lalu andaikan juga, jika mereka adalah kelurga Anda. Bisakah Anda untuk tidak berpikiran “sempit” ato “sinis” dan hanya menganggap perbuatannya adalah sebuah “kekhilafan”?
Walaupun mereka tidak terkait apapun dg Anda? Pdhal kita cuma mebacanya lwt sebuah berita. Akan kah rasa “ikhlas” itu segera menyergap Anda, jika kenyataannya mereka orang2 terkasih direnggut oleh orang yg juga kita kasihi?
semoga Allah selalu memberi kita hidayah.
wassalam,
saya, yg sangat emosional membaca berita2 tsb
Comment by Febz — June 14, 2006 @ 9:50 am
Mas Khairul, kalau membaca berita di sini (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/12/0206.htm) proses pemeriksaannya tidak dilakukan ala interogasi kepada penjahat, melainkan ngobrol-ngobrol biasa mengingat kondisi kejiwaan si ibu yang masih shock dan sedih. Berita yang Mas Khairul tangkap menurut saya, kelanjutan dari berita ini. wassalam
Comment by wikan — June 14, 2006 @ 11:25 am
Saya setuju dengan #6. proses hukum tetap harus berjalan. terlebih diberita terakhir hasil otopsi terbukti ketiga anak tersebut meninggal dengan tidak wajar.
saudara Iman juga adalah teman saya, dia adik kelas saya di fisika ITB. saya sangat prihatin dan turut berempati, tetapi, proses hukum mesti segera dilaksanakan, karena kalau terlambat barang bukti bisa hilang.
di zaman sekarang yang serba penuh tekanan, kadangkala kita tidak menyangka kalau orang yang terlihat soleh dan alim pun ternyata bisa tergelincir karena godaan syetan..
Comment by Eep — June 15, 2006 @ 2:28 am
Hmmm… bagaimana ya? Saya punya banyak kawan pers, akan tetapi sempat (beberapa kali) dilukai juga dengan tulisan di media. saya setuju dengan tulisan yang lebih memilih hati nurani dan tidak tendensius. Ah …
(nanti kawan-kawan pers saya pada marah nih.)
Comment by Budi Rahardjo — June 15, 2006 @ 5:33 am
Mohon maaf, sebelumnya saya juga ikut prihatin dengan musibah yang menimpa teman anda.
Saya juga berharap, anda tidak terlalu emosional menilai semunanya baik, keluarga korban, polisi ataupun pers.
Karena bagaimanapun semua ada aturan, dan hukum yang digunakan.
Kalaupun pers tidak manusiawi, itu karena memang tuntutan era kapitalis yang mengharuskan sang wartawan mencari berita yang menarik, sensasional dan laku di pasaran.
Kalaupun judulnya terkesan “bombastis” dan sering tidak sesuai isinya, maka kita semua punya tugas untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk pandai menilai mana yagn baik dan buruk.
Mohon maaf kalau ada yang salah…
Comment by dhany — June 15, 2006 @ 8:21 am
pertama, saya ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa keluarga teman anda. kedua, generalisasi memang bisa terpeleset menjadi kesimpulan yang menyesatkan. bagaimana kalau judul postingnya juga diubah menjadi polisi bandung dan pikiran rakyat [bukan pers] hanya mencari sensasi bla-bla-bla? soalnya, ada kemungkinan ada koran lain yang memuat dengan judul berbeda. ada soal lain, publik mungkin perlu diberi tahu juga bahwa ada yang namanya realitas media dan realitas nyata. keduanya jauh berbeda. yang tertera di media [pers] mungkin tak sama dengan faktanya. bagaimanapun, pers punya keterbatasan. pers tidak selalu benar. karena itu, tersedia hak jawab dan ruang untuk meralat. just my two cents…
Comment by wicaksono — June 15, 2006 @ 9:15 am
mengikuti QS-49:12 yang anda kutip, ada baiknya kita juga tidak berprasangka buruk dan menggunjingkan polisi, wartawan, dokter jiwa, dokter forensik, pengacara (dan nanti jaksa, hakim) yang menangani kasus ini.
Comment by andrie — June 15, 2006 @ 9:47 am
mari tidak berprasangka. Mudah2an hasil autopsi tepatnya segera didapat. Untuk keluarga Mas Iman, turut berduka cita.
Comment by Mimin — June 15, 2006 @ 9:57 am
mengapa bila ada berita yang memojokkan kaum kita, kita sangat reaktif, tetapi bila ada berita yang membanggakan kita, kita menyambutnya tanpa perlu cek en ricek?
adil lah hai UMMAT, jangan sekedar membela tanpa mericek kembali,
ingat, malu nanti jadinya kita
Comment by ahmad — June 15, 2006 @ 12:20 pm
to comment #13 : mengapa bila ada berita yang memojokkan (bukan) kaum(?) kita, kita sangat (tidak)
reaktifempatik, tetapi bila ada berita yangmembanggakan(’menyenangkan’ hati) kita, kita menyambutnya tanpa perlu cek en ricek?adil lah hai
UMMATahmad, jangan sekedarmembela(mengekor media) tanpa mericek kembali, ingat, (teramat) malu nanti jadinya kitaComment by another ahmad — June 15, 2006 @ 2:39 pm
Sampai saat ini saya masih sangat berharap apa yg diberitakan PR adalah salah dan apa yg disampaikan Mas Khairul benar adanya. Namun kita juga harus realistis bila kelak hasil penyelidikan dan penyidikan polisi menunjukan hal sebaliknya. Bukankah hati manusia sangat mudah terbolak-balik?.
Apapun hasil akhirnya nanti, saya sangat berduka dgn kejadian ini. Mohon sampaikan rasa duka kami kepada Bung Iman dan Mba Anik.
Comment by Darmawan — June 16, 2006 @ 12:21 am
sedih juga mendengar kabar duka ini, saya juga mohon maaf ketika membaca berita di internet (detik dan pikiran rakyat) saya terbawa oleh opini pers yang sudah memvonis perbuatan ibu ini, dan sebagai bentuk keprihatinan saya, saya kemudian mengupload berita tersebut ke milis. Setelah membaca ulasan mas Kahirul saya jadi tersadar bahwa berita tersebut hanya dari satu persepsi, belum dari perspektif si korban atau pihak lain. mohon maaf sebesar2nya, Semoga rekan ukhti anik bisa diberikan kesabaran dan keikhlasan menghadapi cobaan berat ini. Amin.
Comment by rusle' — June 16, 2006 @ 1:05 am
Menurutku, pelaku & alasan pembunuhan ini sampai skrg tetap masih misteri. Sempat juga terpikir bahwa ini semua ulah polisi dan media massa untuk memojokkan aktivis Islam. Sejak dibebaskannya Abubakar Ba’asyir, proyek ‘Moslem Defamation’ sepertinya lebih diarahkan kepada kaum Islam modernis yang lebih intelek dan moderat. Oleh karena mayoritas umat Islam di Indonesia adalah kaum moderat, maka gaung dan imbasnya akan lbh terasa. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, ini juga mrpk prasangka yang kejam terhadap aparat dan media massa… lebih-lebih tadi mas Khairul sudah mengutipkan QS.49:12.
Jadi, sebaiknya kita tunggu aja proses hukum yang berlaku. Semoga proses hukum tersebut berjalan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Kepada yang terkena musibah, semoga diberi ketabahan dan kemampuan untuk tegar menghadapi ujian ini
Comment by vitanuova lumajang — June 16, 2006 @ 1:23 am
Kalau menurut saya, coba lebih rasional. Meskipun dia teman dekat Anda, dan Anda bermaksud baik membela, tapi tindakan Anda ini malah cuma menambah bumbu ke masyarakat karena lebih didasarkan pada emosi.
>Polisi -yang menurut saya bertindak bagai pahlawan kesiangan tak diundang-
>merasa bertanggungjawab untuk mengusut kejadian naas tersebut.
Ini penilaian yang tidak pada tempatnya dan menunjukkan Anda kurang mengerti proses hukum. Saya bukan pakar hukum, tapi setahu saya, polisi berhak untuk menyidik tanpa diminta atas suatu perkara yang tergolong ‘delik umum’, seperti pembunuhan, pencurian, dll. Tewasnya tiga kakak beradik secara bersamaan pasti ada ’sesuatu’, dan itu wajib disidik. Mungkin misalnya:
- mereka kena flu burung, jadi demi keamanan masyarakat harus disidik.
- atau ada pembunuh psikopat berkeliaran
Jadi apanya yang ‘pahlawan kesiangan’? Anda menulis dalam keadaan emosi dan simpati jadi malah tidak rasional.
>Semestinya kalau polisi berempati dia akan memberi waktu kepada keluarga
>yang ditimpa musibah itu.
Justru suatu perkara harus disidik secepatnya, supaya klarifikasi yang kemudian didapatkan berdasarkan bukti yang masih shahih. Kalau menunggu waktu, sampai kapan? bisa-bisa mayat sudah pada jadi kerangka semua dan bukti-bukti yang valid menjadi hilang.
>Semestinya mereka sadar, menginterogasi seseorang yang sedang dalam
>kondisi kejiwaan terguncang tentulah jauh dari valid. Bisa jadi menjawabnya
>asal-asalan, atau salah berbicara.
>Saya menduga BAP tersebut bias, bisa karena penjawabnya sedang kurang
>sadar, atau karena penanya mengarahkan jawaban, atau bahkan penanya
>sembarang menyimpulkan.
Mestinya Anda juga tahu bahwa dalam interogasi, si Anik ini didampingi pengacara. Itulah fungsinya pengacara di situ untuk membantu mengawal interogasi agar bersifat ‘pro yustisia’. Polisi juga tidak berani gegabah dalam perkara yang disorot publik begini.
>Dugaan terkuat saya adalah : si ibu melakukan tindakan (misalnya memberi
>obat atau melakukan tindakan perawatan) namun ternyata berakibat fatal,
>karena kebetulan beberapa hari itu ketiga anak tersebut sakit demam.
Ini dugaan yang tidak pada tempatnya. Jika memang ada dugaan ini, pasti ketahuan dari visum yang dilakukan oleh dokter forensik.
>saya kenal betul betapa alimnya teman saya itu (si suami) sehingga peluang
>terbesar dia adalah memilih istri yang mirip karakternya
Alim, saleh, dll, sama sekali bukan jaminan seseorang tidak akan terpeleset. Sudah terlalu banyak contoh kasus tentang hal ini. Mengungkit masalah ini cuma membuat timbulnya cibiran orang terhadap ‘kalangan agama’.
Sekali lagi menurut saya, tidak usah menambah bumbu ke masyarakat tentang hal ini. Biarkan proses berlangsung, biarkan masing-masing melaksanakan tugasnya secara profesional.
Ada polisi, ada pengacara yang mengawal tersangka, pers pun melakukan tugasnya karena perkara ini sudah menyedot perhatian publik. Bahwa pers juga suka kelewatan itu memang benar. Tapi publik berhak tahu, ada apa dengan anak-anak itu. Kalau saya jadi tetangganya, saya juga pengen tahu ada apa sebenarnya, apakah karena flu burung, atau ada psikopat berkeliaran, dll.
Kebayang gak kalau kejadian itu dalam lingkungan kita? apa sebagai orang tua kita tidak menjadi was-was, ada apa sebenarnya.
Jangan sembarangan mengutip ayat dan menerapkannya karena hanya Anda berada pada satu pihak yang kelihatannya saat ini teraniaya.
Comment by Dody — June 16, 2006 @ 2:07 am
Tanpa bermaksud mengadili, saya fikir sangat wajar kalau faktor “stress” dapat mengubah perilaku seseorang.
Mungkin ibunya mengaku membunuh karena stress atas kematian mendadak anaknya.
Mungkin juga ibunya tanpa sadar membunuh anaknya, karena stress oleh urusan rumah tangganya.
Urusan rumah tangga bukan hanya dg suami, tapi yang namanya mertua, orang tua, keluarga besar, bahkan tetangga sekalipun, seringkali turut campur ke dalam rumah tangga seseorang, yang kadang bukannya membantu menyelesaikan masalah, tapi justru memperunyam masalah.
Jadi ya kita sikapi saja, itu musibah, cobaan, atau ujian buat ybs. Doakan saja semoga tabah, dan semua yang terjadi adalah jalan menuju “level” keimanan yang lebih baik.
Bukankan sering dikutip para ulama “Janganlah kamu mengatakan beriman, sedangkan kamu belum menjalani ujian?”
Ya semoga saja ujian itu akan membuktikan keimanan dari ybs.
Comment by Alifa Yogananda — June 16, 2006 @ 3:24 am
saya juga sepakat, sebaiknya Polisi, termasuk Dokter, dan Pers tidak sekedar mencari sensai.. apalagi berasumsi yang macem-macem…
saya pribadi tidak percaya ketika pertama kali mendengar kejadian ini.. sependek pertemanan saya dengan Iman, Beliau adalah ornag yang sangat perhatian pada teman.. apalagi istri dan anak-anaknya…
Comment by Agustin P.ANGIN — June 16, 2006 @ 3:50 am
coba baca berita hari ini:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/16/0205.htm
kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam keluarga sahabat kita Iman, tetapi, alasan ekonomi sungguh mengejutkan saya.
Comment by Eep — June 16, 2006 @ 4:13 am
Meski saya sudah membaca berita ini dan sudah penasaran sejak Sabtu, namun baru kemarin sore saya membicarakannya dengan istri. Istri saya mengatakan dia baru membaca berita di metro bahwa sang ibu mengaku membunuh dan berkomentar bagaimana mungkin karena dia memperkirakan istri seorang aktivis Salman kemungkinan seorang aktivis juga. Kemudian istri saya menjadi shock ketika saya menambahkan informasi bahwa sang ayah adalah seorang pejabat penting di Salman, sementara teman kami kenal baik sang ibu yang juara SD, SMP, dan SMA di Boyolali dan kemudian masuk Arsitektur ITB lalu pindah jurusan ke Planologi dan selama kuliah memang aktif di Salman. Lumayan lama istri saya terdiam di pangkuan saya, sampai kue yang dipanggang meminta perhatiannya. Meski tidak kenal, bagaimanapun kami merasa dekat dengan mereka, karena saya juga dari jawa tengah, alumni ITB, pernah aktif di Karisma Salman, anak saya juga ikut PAS Salman. Saya sempat menjelaskan kepada istri bahwa setiap kejadian ada hikmahnya. Saya mengingatkan hadits bahwa kita tidak bisa masuk surga karena perbuatan baik kita, melainkan karena kasih sayang Allah. Analoginya, kita tidak bisa lepas dari tipudaya iblis karena kecerdasan kita, melainkan karena bimbingan Allah. Setelah istri saya mulai normal, giliran saya yang tercenung lama… Ya, Allah. semoga Engkau senantiasa melimpahkan kasih sayang dan bimbingan kepada kita semua.
Comment by Syafrudin — June 16, 2006 @ 8:16 am
18, saya sangat setuju dengan pendapat anda:
Alim, saleh, dll, sama sekali bukan jaminan seseorang tidak akan terpeleset. Sudah terlalu banyak contoh kasus tentang hal ini. Mengungkit masalah ini cuma membuat timbulnya cibiran orang terhadap ‘kalangan agama’.
sayang sekali menurut saya pak khairul dalam hal ini kurang berfikir jernih.. padahal selama ini saya sering menikmati tulisan-tulisan yang sangat inspiratif. yah namanya juga manusia, bisa tergelincir juga..
Comment by Eep — June 16, 2006 @ 8:53 am
wah kok itu hurufnya jadi gede sendiri..? hehehehehe
sorry.., itu bukan perbuatan saya… hahahahaha
Comment by Eep — June 16, 2006 @ 8:57 am
mungkin ibu tsb menderita severe baby-blues syndrome
saya setuju dengan #18 (sdr.Dody) terutama pada kalimat ini Jangan sembarangan mengutip ayat dan menerapkannya karena hanya Anda berada pada satu pihak yang kelihatannya saat ini teraniaya.
bahkan saya merasa, karena kejadian ini menimpa pada salah seorang yg menjadi panutan yaitu aktivis dakwah (apapun itu namanya) mungkin sebagian dari komunitas tersebut menolak keadaan ini. Maaf, bukan bermaksud menghakimi, skl lg maaf, tapi marilah kita melihat persoalaan ini dengan melepas kacamata kuda yg ada.
Sungguh tidak ada yg tahu pemicu dan sebab ibu ini menjadi bgt terlihat menyedihkan (baca: berbuat sedemikan rupa thd anak2nya sdr) kecuali Allah, dia dan Setan
mhn maaf jikalau ada kata2 yg kurang berkenan di hati
Comment by Febz — June 16, 2006 @ 9:01 am
Saya turut berduka, apalagi juga sebagai alumnus ITB walopun beda jurusan. Alim, shaleh, dll itu bukan jaminan untuk tidak melakukan kekhilafan pak. Banyak kasus orang yang sepertinya alim melakukan kekhilafan yang tidak disangka-sangka, seperti: bunuh diri, berzina, dll. Semoga kita terhindar dari hal-hal yang demikian. Amin.
Comment by Vitri — June 16, 2006 @ 9:13 am
mohon maaf kalo saya tidak setuju dengan apa yang anda tulis.dan apakah anda juga yakin bahwa apa yang anda tulis bukanlah sebuah opini anda sendiri karena anda mengenal baik keluarga tersangka? jujur saya juga seorang ibu dan saya juga turut prihatin dengan apa yang menimpa keluarag tersebut, sebagai teman sedaerah dan adik kelas tersangka waktu sma saya benar2 prihatin. tapi biarlah semua proses hukum yang akan membuktikan karena tugas polisi memang membuktikan kebenaran suatu kasus. terimakasih
salam
Comment by wi — June 16, 2006 @ 9:16 am
Ada opini yang berbeda, datangnya dari Abu Syauqi, di Banjarmasin Post:
http://www.indomedia.com/bpost/062006/15/nusantara/nusa1.htm
Bebrapa intinya:
> Menurut Syauqi, keluarga Iman-Anik sedang dililit masalah ekonomi yang cukup berat. Ketika anak-anaknya sakit, beli obat pun tak bisa. “Beli makanan juga susah,” katanya, Rabu (14/6).
Bahkan, pada Kamis 8 Juni, Iman sempat ke kantor Syauqi. Tujuannya untuk meminjam uang untuk membeli obat salah satu anaknya yang sedang sakit. “Kemungkinan yang sakit itu Umar, anak bungsunya yang belum berusia setahun,” ungkapnya.
>Rendahnya tingkat ekonomi keluarga itu, imbuh Syauqi, dikarenakan Iman hanyalah sebagai pengurus Masjid Salman ITB Bandung. Pekerjaannya ini tidak menghasilkan banyak uang. “Ini adalah pengabdian. Selain itu Imam melarang istrinya kerja,” katanya.
Dalam kondisi seperti itu, mereka mengontrak rumah tipe 45 di Jalan Margahayu Barat U-2 No 124 Margacinta, Bandung. Menurut para tetangga, harga kontrak rumah di kawasan itu adalah Rp4-5 juta/tahun
Comment by Alifa Yogananda — June 16, 2006 @ 10:08 am
Ada opini yang berbeda, datangnya dari Abu Syauqi, di Banjarmasin Post
Bebrapa intinya:
> Menurut Syauqi, keluarga Iman-Anik sedang dililit masalah ekonomi yang cukup berat. Ketika anak-anaknya sakit, beli obat pun tak bisa. “Beli makanan juga susah,” katanya, Rabu (14/6).
Bahkan, pada Kamis 8 Juni, Iman sempat ke kantor Syauqi. Tujuannya untuk meminjam uang untuk membeli obat salah satu anaknya yang sedang sakit. “Kemungkinan yang sakit itu Umar, anak bungsunya yang belum berusia setahun,” ungkapnya.
>Rendahnya tingkat ekonomi keluarga itu, imbuh Syauqi, dikarenakan Iman hanyalah sebagai pengurus Masjid Salman ITB Bandung. Pekerjaannya ini tidak menghasilkan banyak uang. “Ini adalah pengabdian. Selain itu Imam melarang istrinya kerja,” katanya.
Dalam kondisi seperti itu, mereka mengontrak rumah tipe 45 di Jalan Margahayu Barat U-2 No 124 Margacinta, Bandung. Menurut para tetangga, harga kontrak rumah di kawasan itu adalah Rp4-5 juta/tahun
Comment by Alifa Yogananda — June 16, 2006 @ 10:16 am
tapi tetep aja klo baca berita2nya selalu air mata ini gabisa ditahan2.. sedih sekali saya membayangkan penderitaan anak2.
Allahu Akbar
Comment by Febz — June 16, 2006 @ 10:32 am
Kalo sudah berhubungan dengan anak, saya merinding dan hati saya teriris… secara naluri seorang ibu dari manapun asalnya tidak akan tega menyakiti anaknya….apalagi sampe membunuh…
Saya yang awam terhadap proses dan prosedur pemeriksaan polisi, agak bingung juga untuk berfihak kepada siapa, ditambah lagi pengakuan saudara Khairul yang menyatakan bahwa bapak dari anak2 tersebut termasuk orang yang alim dan pastinya akan memilih istri yang alim juga. Sayangnya… kita tidak bisa lari dari proses hukum yang sudah diatur oleh pemerintah yang notabene bukan pemerintahan Islam yang setiap ayat-ayat dalam Alqur’an bisa kita gunakan sebagai referensi… Kebenaran hanya milik ALLOH…siapa yang salah dan siapa yang benar…Wallahu Alam…
Comment by Yo — June 19, 2006 @ 3:27 am
Assalamua’laikum wr.wb.
Dengan perasaaan yang remuk saya mengikuti berita ini berhari-hari. Sampaikan salam prihatin mendalam saya dan doa saya untuk Pak Iman.Semoga Allah, Rabb Azza Wa Zalla, Maha Pemurah, Maha Pengasih selalu membimbing kita ke jalanNya yang lurus. Amin
Wassalamualaikum wr.wb.
Comment by Apip Kamil — June 19, 2006 @ 9:34 am
assalamualaikum wr.wb.
yang pertama, saya turut prihatin mendengar kabar ini. Innalillahi, semoga Pak Iman diberi kekuatan lahir dan batin.
kedua, memang sangat miris ketika kita mendengar berita dari tangan-tangan maya yang belum tentu juga valid dan teruji kebenarannya. terlebih sebagai seorang aktivis, saya juga paham adanya keterpukulan, kegusaran, kesedihan, dan kekecewaan yang sangat mendalam karena hal tersebut.
namun terlepas dari hal tersebut, saya pikir tulisan di blog ini juga bias secara equity before the law-nya. seolah tidak fair jika kemudian “atas nama jamaah” kita merasa kabur dan seolah semua yang terkait dengan nilai jamaah kita adalah putih adanya ..
satu hal yang langsung terbesit di dalam pikiran saya adalah memang benar kita tidak boleh bersyak-prasangka .. karena banyak hal yang memang tidak kita ketahui, hanya Allah Swt saja yang tahu tentang hal tersebut.
namun, Allah pun berkuasa untuk membolak-balik hati manusia, karena bagaimanapun manusia diberi kelebihan yaitu adanya nafs. termasuk juga kita tahu juga bagaimana setan dan bolo kurowonya bergerilya untuk bisa menembus jaringan darah manusia.
jadi intinya, jangan sampai juga kita menjustifikasi kebenaran atau kesalahan tanpa ilmu yang benar. kalau tulisan di blog ini juga timpang dalam pemberitaan, maka sama saja sebenarnya dengan versi media massa dan polisi. mungkin saja, blog ini sisi angel-nya, yang media massa sisi devil-nya.
yang jelas, mari kita sama-sama berdoa agar kita semua juga diberi keluasan hati untuk dapat memilah dan memilih semua hal dan pilihan di dunia ini dengan benar.
Kisah pilu ini semoga bisa memberi ibrah yang cukup berarti buat kita semua. termasuk satu hal yang pasti adalah, komunikasi adalah segalanya. untuk suami-istri, harus tetap menjaga tali komunikasi itu agar tidak terputus. termasuk juga mungkin adanya mimpi-mimpi dari sang suami atau istri yang belum sempat terpenuhi, itu juga perlu dikomunikasikan.
sekian adanya.
wallahu’alam bis showab
wassalam
Comment by ara hanin — June 21, 2006 @ 2:28 am
Assalamu’alaykum wr. wb.,
Saya setuju dengan Kang Irul. Seharusnya pers mengetahui saat yang tepat untuk memberitakan suatu masalah. Saya melihat dalam kasus ini yang cukup bersalah adalah pihak kepolisian, dokter yang melakukan otopsi dan pihak pengacara yang bersangkutan. Seharusnya mereka memahami perasaan pihak yang tengah berduka.
Berita terakhir yang kita dengar, bahwa Ny. AK adalah pengkonsumsi obat2x-an penenang sejak SMU. Jika ini benar, maka pihak yang merekomendasikan obat2x-an tersebut juga bersalah; menurut saya ini adalah kasus malpraktek yang menyebabkan penyakit kejiwaan. Saudara sepupu saya juga ada yang dijadikan kelinci percobaan serupa.
Mari kita jangan saling menyalahkan di majelis ini; tindakan yang benar adalah mencoba mentafakkuri keadaan yang sangat mengguncangkan ini.
Seperti kata Kang Udhar, sobat Kang Iman di Salam, …” It can be happened for every person … “
Mari bertafakkur dengan jernih …
Wass.,
Agung
Wass
Comment by Agung Trisetyarso — June 21, 2006 @ 7:46 am
KLARIFIKASI DARI USTADZ ABU SYAUQI
From: Dedy Kurniawan
To: kalam salman
Date: Wed, 14 Jun 2006 23:54:09 -0700 (PDT)
Subject: [kalam_salman] Abu Syauqi: Klarifikasi Berita di Detik.com & Galamedia
Assalamualaikum wr.wb.
Berikut saya lampirkan surat klarifikasi oleh Abu Syauqi, dan ditandatangani oleh Abu Syauqi.
Klarifikasi Berita di detik.com & Galamedia
Berdasarkan pemberitaan tentang Iman Abdullah, di detik.com pada tanggal 14 juni 2006, saya Abu Syauqi, ingin melakukan klarifikasi dengan pemberitaan tersebut. Berawal dari telepon wartawan detik.com yang mengatakan bahwa wartawan tersebut melakukan wawancara karena direkomendasikan oleh Daarut Tauhid sebagai teman dekatnya Iman Abdullah. Lebih jelasnya, saya akan melakukan klarifikasi mengenai beberapa hal:
Pertama, di dalam berita tersebut dikatakan bahwa saya adalah teman dekat Iman. Hal itu tidak benar, bahkan ketika wawancara, tiga kali saya sampaikan bahwa saya tidak mengenal Iman. Mungkin saja Iman mengenal saya, karena saya sering memberikan ceramah di Masjid Salman dan ITB.
Kedua, saya disebut sebagai kerabat dekat Anik (! istri Iman). Hal ini juga tidak benar. Saya sama sekali tidak mengenal Anik, bertemu dengan beliau pun tidak pernah.
Ketiga, dalam berita tersebut dikatakan bahwa Iman pernah pergi ke kantor Abu dengan tujuan meminjam uang untuk membeli obat. Saya tidak pernah mengatakan seperti itu. Bagaimana mungkin, kenal saja tidak, apalagi bertemu dengan Iman.
Keempat, di dalam berita tersebut seolah-olah saya sangat mengetahui keadaan ekonomi keluarga beliau. Padahal saya tidak mengetahui keadaan keluarganya sama sekali, hanya saya berasumsi, mungkin saja kondisi ekonomi mereka lagi menghadapi kesulitan, karena mereka keluarga muda. Apalagi mereka aktivis, yang banyak pekerjaan pengabdian.
Demikian klarifikasi ini saya buat. Jazakallah atas kerja samanya.
Bandung, 15 Juni 2006
Abu Syauqi
Comment by Agung Trisetyarso — June 21, 2006 @ 8:03 am
Al An’am(6):151,“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”
Comment by Febz — June 21, 2006 @ 11:27 am
benar atau tidak peristiwa tersebut, tidak bisa menjadi pembenaran atas eksploitasi penderitaan/musibah yang dialami orang lain, sewajarnya saja lah
Comment by ananta — June 22, 2006 @ 5:26 am
exploitasi kembali dilakukan oleh media. apakah ini salah satu upaya media umntuk kembali membangun citra Islam menjadi buruk dimata masyarakat? seperti kita tahu, beberapa waktu lalu kasus Imam Samudra, dkk begitu gencar di tayangkan di media massa. Imam Samudra sebagai icon Islam dan jihad. sedangkan mana berita mengenai kasus Poso? Fabianus Tibo? dan sekarang sekali lagi ada kasus yg melibatkan ikhwah Salman ITB. dan sekali lagi, media dengan gencar memberitakannya. bahkan ada yang sampai menceritakan TA (skripsi) sang ibu di ITB. apakah ini juga salah satu skenario menjatuhkan Islam????
wallahu ‘alam
Comment by rani — June 22, 2006 @ 9:06 am
Salam.
Mas Khairul, meskipun tidak mengenal Mas Iman dan Mbak Aniek, saya juga selalu menangis setiap kali menonton/membaca berita tentang kejadian ini. Kalau saya melihat bayi digendong Ibunya saya langsung teringat dengan si kecil Umar, saya langsung menangis membayangkan bagaimana perasaan Mas Iman bila beliau melihat anak-anak yang seumuran dengan anaknya. Pasti berat.
Tetapi dengan alasan apapun, apakah itu sedih, sakit, berduka, dll, rasanya ’saran’ anda untuk ’sedikit menunda’ pemeriksaan terhadap kedua orang tua korban kurang masuk akal. Citra polisi kita memang kurang baik, tetapi menyegerakan pemeriksaan untuk kasus ini adalah tindakan yang seharusnya dilakukan.
Media memang banyak yang menjual sadisme. Tetapi saya perhatikan, khusus untuk pemberitaan kasus ini, media sepertinya malah menghasilkan simpati kepada Mas Aniek dan Mas Iman. Misalnya, sebuah stasiun TV mengutip pernyataan Sartono Mukkadis yang berpendapat bahwa Aniek tidak perlu dihukum, “Mereka sudah sangat terhukum dengan kejadian ini,” ujar Sartono.
Selain itu sepanjang pengetahuan saya sampai saat ini saya belum menemukan pemberitaan yang sifatnya menjelek-jelekkan Mbak Aniek. Semua sumber yang diwawancara media mengungkapkan bahwa Aniek dan suaminya adalah orang yang baik. Jadi, menurut saya, media cenderung mengundang simpati dalam memberitakan kasus ini.
Apakah media melakukan hal yang sama untuk kasus lain? Rasanya tidak. Apakah kita protes ketika melihat poto pelaku kejahatan yang babak belur dihajar massa, hanya dengan celana dalam, di pajang di halaman depan surat kabar? Rasanya juga tidak. Padahal, meskipun si pelaku tersebut bukan teman kita, mungkin bukan saudara seiman kita, tetapi dia juga manusia. Tidak pantas dia diperlakukan seperti itu. Tetapi kita mungkin diam saja.
Kapitalisme media memang menyebabkan timbulnya banyak berita-berita yang tidak bernurani. HAL INI JELAS SALAH. PERS HARUS BERJUANG MEMPERBAIKI DIRI.
Disisi lain, pers sering kali dengan gampang dijadikan kambing hitam. Politisi yang terjepit akibat ucapannya sendiri biasanya langsung menuding pers yang salah kutip. Hal-hal seperti ini juga sering terjadi. Mungkin kekecewaan kita, ketidak relaan kita akan kepergian 3 bocah lucu itu juga menyebabkan kita menyalahkan pers. Kenapa? Mungkin karena semua orang juga melakukan itu. Dan itu yang paling gampang kita lakukan.
Menurut saya tidak ada salahnya memberitakan kasus ini di media massa. Sungguh, begitu banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Kita bisa sadar bahwa ternyata setan sangat lihai tipu dayanya, dll. Hanya saja tentunya pemberitaannya tidak mengeksploitasi sadisme.
Hal yang paling tidak saya suka dalam pemberitaan kasus ini di TV adalah mereka memakai anak-anak kecil, bahkan bayi, sebagai model untuk rekonstruksi kejadian. Menurut saya itu tidak sehat bagi perkembangan anak-anak itu.
Saya berdoa agar Mas Iman dan Mbak Aniek kuat menghadapi cobaan Allah ini.
Wassallam
Comment by alfian — June 23, 2006 @ 5:16 pm
Aktivis Islam memang harus bercermin diri dalam masalah ini. Bagaimana sang suami yg kerap tidur di Salman membiarkan sang istri sendiri dalam sepi dan lelah mengasuh anak. Mengangkangi hak2 istri dg tidak memperbolehkan dia bekerja tanpa mau tahu keinginan terdalam di diri Aniek (ini Indonesia bok, bukan Afghanistan, hari geneeee)… IPK 3,2 yg susah payah diraih seakan tiada arti. Semua demi dan atas nama AGAMA. Pembenaran selalu dilakukan atas nama AGAMA. Kasihan Aniek yg lemah. Banyak aktivis Salman sejatinya lemah, mereka mencari kekuatan dalam agama, dan ketika agama justru berpaling dari hasrat yang terdalam, semua menjadi gelap…
Comment by rookie — June 27, 2006 @ 12:24 pm
polisi telah menzalimi akhwat kita yang tidak berdosa dengan ucapan fitnah yang tidak pantas,polisi telah dipengaruhi zionis internasional, berita keji seperti ini pasti didesain oleh zionis,pokoknya semua masalah umat ini gara-gara zionis,yahudi, kristen,cina , sampai problem lapindo buatan makar kafirin.Allahuakbar,Qum ya jundullah, hidup ikhwa wal akhwat fillahi
Comment by ahmed shahi kusuma — May 13, 2007 @ 5:45 am