Minority Report : perlunya skenario tandingan dalam kasus 3 kakak beradik
Terimakasih atas komentar rekan-rekan di tulisan sebelumnya. Istri saya juga tanya,” Mas, biasanya kalau nulis nggak emosi gini, apa karena teman…?” kira-kira begitu pertanyaan dia. Jawab saya : iya, memang saya menulis sambil menumpahkan emosi. Mungkin karena selama ini saya peduli (concern) dengan cara media memberitakan musibah terutama di TV berita kriminal (saya hanya langganan koran sabtu minggu), yang menurut saya sering keluar dari etika pemberitaan. Namun biasanya saya tidak mengikuti lebih lanjut berita seperti itu (pindah channel). Karena kali ini menyangkut seseorang yang saya kenal, maka kepedulian itu meningkat menjadi keinginan untuk menyampaikan kritik terhadap cara pemberitaan. Dan, itulah hasilnya, sebuah tulisan yang menurut istri saya jadi lain dari biasanya. Namun saya tegaskan, esensi tulisan sebelumnya itu adalah tentang bagaimana cara pemberitaan dan cara suatu berita dikembangkan.
Oh ya, maaf juga ke teman-teman Pikiran Rakyat, kebetulan koran Anda yang saya kutip karena itulah koran langganan kantor saya (dan begitulah kejadiannya siang itu). Setelah melihat liputan media lain di internet, eh ternyata judul mereka lebih bombastis dari judul Anda.
Selain itu saya melihat bahwa pemberitaan seputar kasus tersebut cenderung dikembangkan dari satu sumber utama, yaitu pengakuan si ibu (demikian yang ditulis BAP dan diliput media). Saya melihat alternatif lain sudah mulai diabaikan. Padahal menurut saya sumber utama tadi (si ibu) patut dipertanyakan kondisi mentalnya saat memberikan kesaksian. Kondisi ini menyebabkan penyidikan dilanjutkan berbasis sebuah SKENARIO tunggal.
Mungkin rekan-rekan sempat menonton film Minority Report. Film fiksi arahan sutradara Steven Spielberg yang dibintangi Tom Cruise ini mengisahkan tentang tindak pencegahan kejadian kriminal berdasarkan arahan 3 cenayang (paranormal). Suatu ketika justru tokoh utama ini juga menjadi sasaran tindak pencegahan kriminal. Maka dia pun melarikan diri dari kejaran para polisi lainnya. Sekali lagi, film ini FIKSI. Namun walau fiksi saya terkesan dengan pesan yang ingin disampaikan : boleh jadi fakta yang terlihat bukanlah sesuatu yang sebenarnya.
Pada film itu tokoh Tom Cruise dituduh melakukan kejahatan dengan sangat banyak bukti yang mendukung. Skenarionya tunggal : berdasar rekomendasi para cenayang. Akhir film ini menarik dengan ditemukannya bukti kecil/minor (lewat kerja keras) yang akhirnya membalikkan keadaan. Bukti minor ini diberikan cenayang ke-3 dan karena itu diabaikan karena berbeda dengan 2 cenayang yang lain. Karena itulah film ini diberi judul Minority Report
Sungguh dalam hati saya ingin keajaiban Minority Report ini terjadi pada keluarga teman saya.
Saya hanya bisa bertanya : apakah ada skenario alternatif yang tetap dipegang penyidik selain yang sekarang ini dipegang? Atau apakah semua skenario lain sudah diabaikan karena fakta-fakta yang ditemukan makin mendukung?
Rekan-rekan tentunya tahu bahwa premis awal sangat mempengaruhi tafsiran dari penyidikan, sama halnya kalau kita sedang melakukan penelitian ilmiah. Itulah mengapa dalam riset ilmiah, satu kasus saja bisa menjadi banyak sekali penelitian. Dan semua fenomena yang ditemukan dapat mendukung berbagai hipotesis. Dalam statistik dikenal hal berikut : sesuatu yang punya korelasi tinggi tidak berarti menunjukkan hubungan sebab akibat. Contohnya adalah, bila ITB ramai dengan orang, pasar induk Ciroyom Bandung sepi. Bila ITB sepi, pasar induk Ciroyom ramai. Korelasi sangat kuat, namun tidak ada hubungan sebab akibat. Fenomena dengan korelasi tinggi tidak langsung menunjukkan sebab akibat. Penghubung sesungguhnya (disebut lurking variable) adalah waktu. Siang hari ITB ramai pasar induk sepi. Malam hari ITB sepi pasar induk ramai.
Bila kita menggunakan skenario (premis/hipotesis) tunggal, maka sebuah fakta yang berkorelasi kuat cenderung ditafsirkan mendukung skenario/premis tersebut. Padahal boleh jadi fakta yang sama bisa mendukung pula skenario lain.
Singkatnya : saya mengusulkan -minimal kepada tim pengacara- untuk tetap terus memberikan skenario alternatif.
Saya bukan ahli skenario, tapi misalnya seperti ini :
- skenario 1 : ibunya sengaja membunuh karena awalnya sakit jiwa (jadi memang niat, karena itu pantas dihukum, sakit jiwa terjadi sebelum kejadian)
- skenario 2 : entah ada kejadian apa sehingga anak2 itu meninggal, lalu ibunya guncang menjadi sakit jiwa, lalu mengarang pengakuan seperti yang sekarang (ini mempertanyakan kembali keabsahan pengakuan si ibu. si ibu sakit jiwa setelah kejadian.)
- skenario lain : ibunya diganggu jin atau pihak lain (maksudnya dia bertindak bukan atas dasar kemauan dirinya. bila demikian, maka tidak layak dihukum. ada tim pemburu hantu yang mau menguji? siapa tahu pula ada orang lain dari aliran sesat yang bertindak lalu menghilangkan jejak dengan menggunakan hipnotis? wallahu a’lam.)
Apapun langkah penyelidikan yang dilakukan, adanya skenario alternatif tetap layak untuk terus diusahakan dan ikut diuji. Siapa tahu ada keajaiban Minority Report…
Bagaiman tim pengacara? Bagaimana rekan-rekan penyidik dan pers?
Ya Allah, Ya Aziz, Ya Adil, Ya Jabbar, tunjukkanlah kepada kami jalan keluar atas ujian ini. Amin.



kepala polisi yang menangani kasus ini sendiri yang mengatakan bahwa pengakuan tidaklah cukup. kalo pengakuan membunuh cukup maka tentu kasusnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan. karena itu pula polisi masih bekerja keras mengumpulkan bukti2 yg ada; misal jika benar ada pembunuhan maka harus ada alat pembunuhan tsb.
tugas pengacara membantu tersangka. mereka memang bertugas dan dibayar hanya untuk itu. saya pikir jika anda ingin memang membantu, silahkan kontak pengacaranya. atau membantu mendapatkan pengacara yang lebih baik misalnya.
saya tak bermasalah dengan usaha anda ini. poin saya adalah ada baiknya kita menghargai profesi orang lain (polisi, pengacara, wartawan). jika kita merasa ada yg salah dengan mereka, mungkin lebih baik langsung datang ke mereka dan menyampaikan analisa/opini anda. bukan berusaha membentuk opini umum dengan memojokkan orang/pihak lain tanpa kita tahu pasti apa yang terjadi/dilakukan orang2 itu. apa anda sudah kontak dengan pengacaranya? mungkin mereka memang sudah melakukan itu dan memiliki skenario yg lebih baik dari yang anda miliki. kalo mereka belum punya, mungkin anda bisa membantu mereka langsung.
Comment by andrie — June 16, 2006 @ 3:00 pm
mungkin saya luput melihat skenario alternatif dari berita-berita (terutama detikcom sih..) yang saya baca. mungkin ada rekan yang bisa bantu tunjukkan….
Comment by khairul — June 16, 2006 @ 3:30 pm
bagaimana dengan hasil otopsi yang menyebutkan bahwa ketiga anak tersebut meninggal bukan karena keracunan? Apakah Pak Khariul juga mengesampingkan hal ini dalam membuat skenario..?
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/14/0211.htm
ini adalah hasil visum, bukan hasil cenayang…
Comment by Eep — June 16, 2006 @ 4:24 pm
skenario ketiga akan tetap menjerat sang ibu sebagai pelaku pembunuhan. karena eksekutor tetaplah sang ibu, sedangkan jin dan aliran sesat yang anda sebut bisa dijadikan sebagai dalang dari semua ini. masalahnya adalah: apakah kepolisian memiliki teknologi atau cara yang pasti bisa membuktikan siapa sang gaib yang menjadi dalang tersebut.
skenario ketiga ini pak khairul apa sungguh2 atau sekedar guyon..? kalau sungguh2.., rasanya saya semakin menyayangkan pak khairul semakin melenceng dari diri pak khairul yang biasanya. bukankah hanya orang2 yang kurang beriman yang bisa kena hipnotis? bukankah kita selama ini selalu menganggap tayangan pemburu hantu dan jin itu adalah sesat dan menyesatkan..?
posting minority report anda hari ini semakin menampakkan kengawuran anda. dan ini sedikit banyak mempengaruhi kekaguman saya atas tulisan-tulisan anda di sepia blog…
saya tidak bermaksud menyudutkan anda, siapa tahu hari ini anda juga sedang dibuat melenceng oleh syaiton…, terbukti anda tidak bisa menahan amarah anda dan membuat tulisan anda menjadi tidak biasanya.
anda tidak setuju dengan “bagaimana cara pemberitaan dan cara suatu berita dikembangkan”? kalau tidak setuju ya sebutkan ketidak setujuan anda dibagian mananya, jangan malah melebar ke dongeng pemburu hantu segala.
Anda menyebutkan: “Namun saya tegaskan, esensi tulisan sebelumnya itu adalah tentang bagaimana cara pemberitaan dan cara suatu berita dikembangkan.” Saya pribadi membaca posting anda sebelumnya tersebut tidak merasakan sepreti yang anda tegaskan, yang saya rasakan adalah rasa amarah anda yang demikian besar, itu esensi yang saya tangkap dari posting “polisi & pers mencari sensasi”
semoga pak khairul segera kembali ke pak khairul yang dulu, yang tulisannya penuh inspirasi..
jangan sampai Inspirasi Pagi menjadi Ngedumel Pagi..
salam
Comment by Eep — June 16, 2006 @ 4:41 pm
aya menduga, kalau bukan blow-up semata, Ibu tersebut mengalami “baby blues”. Sindroma setelah melahirkan. Namun apakah akan mengalami selama itu (bayinya 7 bulan) ? Mungkin psikolog bisa menjelaskannya. Atau saja, rentetan dari “baby blues” kemudian keharmonisan rumahtangga menurun, maka “baby blues” itu berlangsung sampai bayi berumur 7 bulan. “Baby blues” dapat dialamai oleh orangtua yang baru menarima bayinya dilahirkan.
Salam,ahf.
Comment by abu hafidz — June 17, 2006 @ 1:24 am
no 4. tks mas Eep atas kritiknya dan doanya.
Comment by khairulu — June 18, 2006 @ 12:58 pm
Selain bikin skenario tandingan, jangan lupakan yg terkena musibah donk, Pak Iman dan Ibu Anik. Mereka perlu didampingi terus dalam menghadapi cobaan ini. Saya percaya depresi bisa menyebabkan seorg Ibu membunuh anaknya. Pernah ada kasus yg sama di Amrik, yg dibunuh malah kelima anaknya dgn cara menenggelamkan ke dalam bak mandi. Dan setahu saya, seseorang yg sakit jiwa, tidak bisa dikenakan hukuman. Bukankah dalam hukum Islam juga begitu? Saya pernah baca sekilas bahwa jika seseorang terganggu jiwanya, maka semua aturan2 tidak berlaku baginya.
Cerdas tidak ada hubungannya dgn kesehatan jiwa. Seringkali org sakit jiwa itu sangat cerdas lho. Jika polisi melibatkan psikiater dan psikolog, dan Ibu Anik terbukti mengalami gangguan jiwa (menurut saya, secara kasat mata, sudah jelas dia sakit jiwa), Ibu Anik tidak bisa dihukum.
Keracunan makanan? Hm, saya kira tidak ya. Keracunan butuh waktu beberapa jam untuk bereaksi.
Teori baby blues, ya memang ada. Tapi Ibu Anik ini lebih dari sekedar baby blues. Baby blues itu paling2 mudah marah, pemurung, malas making love dgn suami, tapi pastilah tidak sampai membunuh anak.
Saya pribadi mendoakan Ibu Anik lepas dari tuntutan hukum. Mungkin sesudahnya beliau bisa sementara tinggal dgn istri AA Gym utk mendapatkan ketenangan dan keteduhan rohani. Semoga Tuhan memberikan kekuatan pada Pak Iman dan Bu Anik. Ditinggal 1 anak saja sudah sangat berat, apalagu sekaligus 3.
Makasih, GBU.
Comment by Marcellus — June 21, 2006 @ 11:05 am
Emang blow-up pers kejam banget. Di Kartini baru ada tuh soal Bu Anik, dikesankan seolah Bu Anik sadis banget. Bagaimana bisa disebut sadis, wong dia tidak sadar dgn apa yg dia lakukan. Nyatanya, sesudah dia sadar, Bu Anik nangis terus tiada henti. Harusnya beliau dibantu, kalo gak bisa2 nambah depresi. Kalo dia bunuh diri, gimana? Menurutku polisi udah cukup bagus, karena Bu Anik didampingi pengacara dan juga ada psikolog dan psikiater yg memberi masukan pd polisi. Yg sadis itu pers, gila aja org kena musibah seberat ini, malah dibikin headline yg tidak2. Begitu denger kasusnya, aku yg awam aja dah ngerti kalo Bu Anik pasti sedang terganggu jiwanya. Kalo dia emang niat bunuh, harusnya tuh jenazah anak2 diumpetin, bukan malah dibaringkan berjejer menunggu suami pulang. Ya kan? Berarti dia emang lagi super duper depresi wkt itu.
Comment by catherine — June 22, 2006 @ 12:56 am
sebelumnya Anda bilang postingan tgl 13 itu ditulis dalam keadaan emosi. Trus, yg postingan yg skrg ini juga tidak ditulis dalam keadaan emosional?
Knpa sih, kita tidak bisa lebih “lapang hati” menerima bahwa ada juga seorang yg kayaknya ndak mungkin melakukan itu (baca: orang yg aktivis masjid, sempurna agama dan akademis) tnyta bisa melakukan hal tersebut. Terlebih tindakannya adalah melenyapkan nyawa orang lain, anaknya sendiri. Hadapin aja lah, nggak usah di”bela” klo memang terbukti bersalah. Ndak usah cari “kambing hitam” alasan skenario, minority report, dll-sbg-nya itu.
Selama ini udah jadi “momok” ajah tuh label orang yg rajin ngumpul di masjid dan rajin beragamanya,adalah manusia suci. Biarpun salah, kudu harus “dimaafkan” dan dilihat sbg suatu “kekhilafan”. Saya rasa Allah nggak melihat spt itu deh. Jelas kok melalui firman2Nya.
Anda muslim? alhamdulillah saya juga muslim. Pernah baca tafsir juga kan? Makanya ingat2 lah selalu ini :
Al An’am(6):151,“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”
Tell that to her.
wassalam,
menulis jg dalam keadaan emosional
Comment by Febz — June 22, 2006 @ 4:12 am
Assalamu’alaikum wr. wb.,
Setuju dengan Kang Irul.
Selama ini PRASANGKA BURUK terhadap yang bersangkutan selalu digembar-gemborkan oleh media, padahal hanya Allah yang tahu yang sebenarnya terjadi.
Kenapa kita tidak mengembangkan PRASANGKA BAIK kepada yang bersangkutan. Saya 100 % yakin, jika dalam keadaan sepenuhnya sadar yang bersangkutan tidak akan mau melakukan hal tersebut sedikit pun. Saya yakin, bahwa dari lubuk hati yang terdalam kita semua mengakui hal itu.
Penyebaran informasi untuk membangun PRASANGKA BAIK perlu dilakukan untuk membersihkan nama Kang Iman, Ny. AK dan keluarga besar yang bersangkutan.
Saya saja yang cuma jemaah masjid salman aja kebawa-bawa jelek namanya, apalagi beliau-beliau itu ….
Sehingga, rehabilitasi perlu dilakukan …
Wass.,
Agung
Comment by Agung Trisetyarso — June 23, 2006 @ 10:19 am
Sebelumnya mohon maaf. Tetapi saya agak lucu dengan posting Mas Agung (No. 10). Paling lucu kalimat, “…padahal hanya Allah yang tahu sebenarnya terjadi,”.
Memang hanya Allah yang maha tahu, mas. Hanya Allah yang paling tahu, apakah Soeharto benar-benar bersalah, apakah Fabius Tibo juga benar-benar bersalah. Semua hanya Allah yang maha tahu. Tetapi proses peradilan didunia kan tetap harus ada. Kalau setiap ada tindakan kriminal kita biarkan karena ‘Allah yang Maha Tahu’ nantinya bisa berabe donk.
Saya mohon maaf juga ketika saya kembali merasa ‘aneh’ ketika anda mengatakan, “Saya 100 % yakin, jika dalam keadaan sepenuhnya sadar yang bersangkutan tidak akan mau melakukan hal tersebut sedikit pun,”
Bagaimana mas Agung bisa yakin 100%? Yang terindra di mata dan hati kita belum tentu benar. Karena, seperti yang anda sebutkan, hanya Allah yang maha tahu.
Saya mengerti kita semua berat dengan peristiwa ini. Tetapi jangan sampai karena yang bersangkutan teman kita, anggota jamaah kita, kita menjadi tidak objketif dalam bersikap. Tentunya kita juga tidak perlu sembarangan menghujat.
Comment by alfian — June 23, 2006 @ 5:30 pm
Salam kenal Mas Khairul.
Sorry nih, baru kenal sudah banyak protes. Hehehe
Posting yang ini sepertinya Mas ingin membela diri atas posting terdahulu ya?. Rentetan kalimat yang mengusik saya adalah:
“Mungkin karena selama ini saya peduli (concern) dengan cara media memberitakan musibah terutama di TV berita kriminal (saya hanya langganan koran sabtu minggu), yang menurut saya sering keluar dari etika pemberitaan. Namun biasanya saya tidak mengikuti lebih lanjut berita seperti itu (pindah channel),”
Seperti salah satu comment yang sudah ada, kalimat-kalimat Anda berikutnya sama sekali tidak membuktikan bahwa Anda concern dengan cara media memberitakan musibah. Yang saya tangkap, Anda hanya concern untuk mencari kemungkinan-kemungkinan bahwa Mbak Aniek tidak bersalah. Sangking niatnya, sampai-sampai bawa-bawa pemburu hantu segala.
Terus bagaimana bisa dikatakan Anda concern dengan cara media memberitakan musibah, kalau Anda hanya baca koran sabtu dan Minggu? Atau mungkin anda concernnya ke pemberitaan TV saja ya? Tetapi anda bilang langsung pindah channel. Nah, bagaimana bisa mendapatkan evaluasi yang lengkap kalau nontonnya cuman sebentar. Jadi beneran concern nggak sih mas?
Comment by alfian — June 23, 2006 @ 5:45 pm
buat alfian no 12. Memang tercampur antara yang emosi dengan gagasan-gagasannya. Emosi, ya. Gagasan pemberitaan media yang kurang etis, ya. Gagasan alternatif skenario, juga iya. Menurut Alfian, media TV kita (terutama berita gosip selebritis dan kriminal) sekarang ini bagaimana?
Comment by khairulu — June 24, 2006 @ 6:33 am
Menurut saya berita kriminal dan berita gosip adalah produk dati kapitalisme media. Jadi ya wajar kalau agak-agak ‘menghalalkan segala cara’. Paling parah sih menurut saya berita gosip karena menjual aib orang, anehnya artis juga ada yang senang aibnya dijual.
Kalau untuk berita kriminal, menurut saya kita harus membuat beberapa ‘pengecualian’. Karena ada juga kok yang beberapa program kriminal yang cukup bernurani.
Dulu masih ingat nggak tentang kasus Tony Buntung dan keluarganya yang melakukan penculikan dan pembunuhan berantai anak-anak kecil? Saya ingat persis waktu itu sebenarnya kapolsek penjaringan sudah berhasil menangkap salah satu anggota komplotan. Tetapi beberapa teman wartawan, termasuk dari program berita kriminal TV, memilih menunda memberitakan hal ini. Kenapa? Karena Tony Buntung masih bebas dan menyandera 2 orang anak kecil. Rekan2 media tersebut khawatir kalau berita penanggakapan keluarganya sampai ke telinga Tony Buntung, dia bisa gelap mata dan menghabisi tawanannya.
Mas Khairul, saya tidak keberatan dengan kritik apapun yang kita lakukan terhadap media. Tetapi sebelum mengkritik sebaiknya kita mengevaluasi secara menyeluruh dulu. Jangan kita nonton sekilas langsung menghakimi.
Btw, salam perkenalan saya kok tidak dijawab?
Comment by alfian — June 24, 2006 @ 7:39 am
lho, mas eep nih kok makin lama makin panas aja…?? kekeke..moga2 bukan krn pernah ditolak oleh mbak anik.
Comment by syaiful — July 9, 2006 @ 8:42 am
Jangan baca lagi Inspirasi Pagi! Titik.
Comment by Anonymous — August 9, 2006 @ 5:56 am
Orang bersalah pantas dihukum so jangan diributkan. orang mati tidak akan kembali lagi walau diributkan.
sekarang kita harus intropeksi diri dari masalah yang sudah
terjadi
Comment by moh rahman wijaya — September 26, 2006 @ 3:40 pm
Orang bersalah pantas dihukum so jangan diributkan. orang mati tidak akan kembali lagi walau diributkan.
sekarang kita harus intropeksi diri dari masalah yang sudah
terjadi
Comment by moh rahman wijaya — September 26, 2006 @ 3:42 pm
yahudi laknatullah bersama polisi bangsat telah menghina gerakan kita,dasar kafir! Nggak mungkinlah akhwat berbuat kejam, kalau pun begitu kan seperti nabi Khidir, maqam kita aja nggak sampai,ibu sudah sampai ! Allahhuakbar!
Comment by ahmed shahi kusuma — June 7, 2007 @ 1:18 pm
Pak ..sebelmnya salam kenal
itulah negara ini perlu LEMBAGA FORENSIK (institute of forensic) yang Independen dalam mengungkap semua kasus yg terjadi, karena pembenaran ilmiah, fakta oleh kepolisian berdasar atas satu Analisis Forensik, gimana kalo ITB bikin tim ini ?
pengalam saya bekerja dgn salah satu ahli forensik di Bareskrim adalah minimnya SDM forensik, Ada fisika forensik, kimia forensik, metalurgi forensi upal forensi dan jelas dokter forensik… tinggal ITB mau main disebelah mana. dgn kehebatan ilmu dan pengetahuannya,
semoga pembuktian minority itu bisa terjadi.. karena selama ini hanya tim forensi Polisi yg diakui, tidak ada balance terhadap itu semua
salam
Comment by M.nasir — March 24, 2008 @ 10:54 am