Inspirasi Pagi


June 22, 2006

Pro kontra UN

Ujian nasional menimbulkan pro kontra. Saya sendiri berpendapat, merancang alat evaluasi itu sungguh sulit. Namun di lain pihak menjadikan suatu alat evaluasi untuk ‘melabel’ (dengan konsekuensi) seseorang memang dilematis.

Saya cenderung setuju dengan model pesantren. Semua siswa lulus. Nilai apa adanya. Biarkan masyarakat yang menilai. Kenapa lulusan pondok pesantren Gontor cukup dikenal? Apakah karena ijazahnya?

Kalau seseorang pintar matematika, bahkan jenius, lalu bahasa inggris jeblok, apakah layak disebut bodoh? Kalau sesorang pintar basket, tapi KO dalam matematika, apakah disebut bodoh? Menurut konsep Multiple Intelligence, anak yang jago basket tersebut ‘cerdas kinestetik’.

Kalaupun sebagian nilainya tinggi, dan sebagian jeblok, yah tulis apa adanya. Nanti yang ngrekrut kerja kan juga bisa menilai sendiri. Misalnya, kalau ada rekrutmen pegawai misalnya untuk tugas menghitung teknik yang rutin, apakah bahasa Inggrisnya harus tinggi? Bukankah itu terserah kepada yang merekrut?

Berita tentang anak pintar yang lulus seleksi masuk PT tapi ternyata jeblok salah satu UN nya perlu menjadi renungan. Apa sih tujuan pendidikan? Bukankah semestinya pendidikan untuk menemukan dan menumbuhkan potensi terbaik siswa, bukan menyeragamkan mereka?

Komnas HAM Klarifikasi Standar kelulusan? PT tolak siswa Tidak menghargai proses Urung ke jerman

richlife - khairul @ 9:55 am

27 Comments »

    Gravatar Image
  1. Ya.. ya.. ya… beginilah…
    orang cuma bisa ngritik doang…
    karena mengamati kelemahan jauh lebih mudah daripada mencari solusi yang cerdas.. kebanyakan solusi yang ditawarkan para pakar juga dilematis.. Bukankah pejabat-pejabat pemerintah telah mencari solusi yang terbaik yang mengakomodasi keseluruhan masalah yang ada? masalah di indonesia memang terlalu sulit untuk dipecahkan… :)

    Comment by galih — June 22, 2006 @ 10:22 am

  2. Gravatar Image
  3. aneh juga sebenarnya, bisa lulus ikut ujian masuk perguruan tinggi tapi tidak lulus di ujian negara. letak kesalahannya di mana ya? selain itu, prosentase kasus yg seperti itu berapa banyak? kalau tidak signifikan, berarti itu cuma kasus khusus. artinya bukan ujian negaranya yg bermasalah, tetapi anak bersangkutanlah yg sedang punya masalah pada saat ujian negara.

    sepertinya berita di media massa juga kadang di blow up sehingga terkesan ujian negaranya yang bermasalah. coba ada data statistik yang bisa dipercaya yg bisa disajikan. tentu hal ini menarik utk dikaji secara lebih baik utk mencari solusi.

    ada sedikit pertanyaan, sejauh mana sebenarnya perbedaan antara ujian negara jaman sekarang dgn evaluasi belajar tahap akhir nasional di jaman dulu? (tentunya selain kurikulumnya).

    Comment by agusset — June 22, 2006 @ 10:55 am

  4. Gravatar Image
  5. UN itu baik, selama standardisasi ditentukan mandiri oleh sekolah, karena yang dekat dengan murid itu ya sekolahnya, bukan pemerintah

    Comment by rendy — June 23, 2006 @ 2:22 am

  6. Gravatar Image
  7. Ini yang membuat saya bingung, tidak lulus ujian kok protes?

    Ya belajar yang rajin supaya lulus. Setahu saya, sejak zaman dulu pun sudah ada ujian akhir kan ? Tapi seingat saya pakai sistem rata-rata, mungkin ini yang membedakan dengan UN saat ini ? Sejak kapan perubahan ini ?

    Berapa jumlah siswa yang ikut ujian ? Dan berapa yang lulus dan tidak lulus ?

    Saya setuju diberi kesempatan ujian ulang. Tapi kalau tetap tidak lulus ya JANGAN PROTES !

    Comment by Obyektif — June 23, 2006 @ 3:33 am

  8. Gravatar Image
  9. Maksudnya, untuk kelulusan gunakan saja STTB. sedangkan UN digunakan sebagai benchmark, bukan kelulusan.
    STTB merekam prestasi belajar siswa selama 3 tahun. UN lebih cocok sebagai pembanding dengan prestasi orang lain.

    analogi : bukankah kalau kita kuliah kelulusan bukan disebabkan lulus ujian negara? yang dipakai adalah IPK.
    Resiko kelulusan bila berdasar UN adalah anak tersebut harus mengulang kembali kelas 3 yang sebenarnya tidak terlalu bermanfaat buat dia (kalau kuliah cukup mengambil ulang SKS yang belum lulus), padahal sekolah pakai biaya.

    Selanjutnya silahkan yang akan memakai lulusan SMA untuk mengadakan ujian disesuaikan kepentingan masing-masing. Kualitas sekolah akan dinilai masyarakat dengan kesesuaian penilaian STTB dan kenyataan kualitas lulusan tersebut. Sekolah yang ‘curang’ akhirnya akan kehilangan reputasi.

    Comment by khairulu — June 24, 2006 @ 6:46 am

  10. Gravatar Image
  11. Iya betul, sebaiknya kelulusan menggunakan STTB saja. Tapi pertanyaan saya, apakah UN ini sama dengan EBTANAS dulu ?

    Dulu, kelulusan ditentukan oleh nilai EBTANAS “dan” nilai lokal, dan menggunakan rata-rata.

    Yang menyedihkan dalam berita-berita tentang UN ini (baca detik.com), banyak ditulis “Anak jenius kok bisa tidak lulus UN”. Menurut saya ini menyedihkan sekali, memangnya anak jenius tidak pernah membuat kesalahan ? Kalau memang persiapan ujiannya tidak baik ya bisa saja tidak lulus kan ? Kalau tidak belajar ya bisa saja tidak lulus! Semakin ngawur saja.

    Comment by Obyektif — June 25, 2006 @ 6:44 am

  12. Gravatar Image
  13. Kasihan, masa hanya gara2 tidak lulus UN banyak dari siswa kita yg bunuh diri, mungkin nanti di masa depan harus ada yg namanya pelajaran penjegahan dari bunuh diri he he

    ~OOT ON~
    salam pak khairul, ternyata bapak punya blog juga, bapak pasti ndak kenal saya, ngomong2 masih di ngajar di QCollege pak ? :D
    ~OOT OFF~

    Comment by Aditya — June 27, 2006 @ 2:42 am

  14. Gravatar Image
  15. Menurut saya, pastilah para ahli pendidikan di depdiknas dan konsultan2nya sudah memikirkan konsekuensi kebijakannya seperti itu. Kalaupun ada yang diluar skenario, pasti akan ada solusinya. Mereka khan juga mau bahas dengan DPR dan lembaga-lembaga lain yang berkait. Kita tunggu saja. Ingat cerita mengenai 3 orang anak yang meninggal kemarin. Jangan sampai karena persepsi kita dan data minimal yang kita miliki, kita dengan mudah menghakimi. Mari berhusnudzhon kepada para pengambil kebijakan kita.

    Comment by hendro — June 27, 2006 @ 8:05 am

  16. Gravatar Image
  17. no 7. setelah melihat foto di blogmu, saya ingat lagi dengamu… :)
    lanjut terus dengan web. saya sekarang banyak aktif di ITB saja.

    Comment by khairulu — June 27, 2006 @ 2:47 pm

  18. Gravatar Image
  19. UN…
    Saya setuju dengan pendapat mas Khairulu. Saya harap UN bukan sebagai proses seleksi, melainkan hanya sebagai proses evaluasi. Biarkanlah seleksi dilakukan oleh dunia yang hendak individu tersebut masuki.

    Pemerintah tidak punya hak dalam menentukan nasib rakyat, seharusnya rakyat lah yang menentukan nasib pemerintah dan pemerintahan. Karena sudah lewat, lebih baik kita habiskan energi untuk mencari solusi terhadap mereka yang “tidal lulus” UN.

    Are you here with solution, or just another part of problem?

    Comment by standalone — July 12, 2006 @ 7:39 am

  20. Gravatar Image
  21. UN tidak menaruh penghargaan pada bakat dan minat peserta didik. UN = Kemunduran dunia pendidikan. Turut berkabung.

    Comment by yanti — September 7, 2006 @ 1:34 pm

  22. Gravatar Image
  23. Paket C apaan tuh
    Coba depdiknas yang jadi murid ga lulus apakah ia mau ikut paket C gw rasa enggak mending setahun ngulang juga malez belum nanggung malu mending bunuh diri aja !

    Comment by paket C — April 18, 2007 @ 12:06 pm

  24. Gravatar Image
  25. Orang pada ribut dengan ilmu-ilmu dunia, tapi ilmu yang pasti seperti Sirah nabawi,hadits,mengaji dan sebagainya nggak tidak pernah ditekankan.Negara sekuler penyebabnya, dan celakanya kita terjebak prokontra UAN. Energi kita habis hanya untuk membebek pada sistem pendidikan zionis, buang semua ilmu kafir itu ganti dengan islamisasi sains! Allahuakbar

    Comment by ahmed shahi kusuma — June 7, 2007 @ 1:44 pm

  26. Gravatar Image
  27. UN=ujian nyali
    UN=ujian niat

    nyali perang ma matematik, indonsia n inggris
    niat=toek apa kita ujian negara
    yang jelas si
    kita blom bisa nemuin kesatuan paradigma tentang evaluasi sesungguhnya
    pasti bagus banget klo ujiannya itu bisa nentuin tingkat kemuliaan kita
    hehe, ya akhirnya akhirat yaw …
    ok deh
    met nyari alat yang pasti ya pemerintah.
    Go GO

    Comment by khansa — October 17, 2007 @ 1:15 pm

  28. Gravatar Image
  29. beginilah kalo punya menteri pendidikan jebolan “ekonomi”, jadi yang dilihat cuma angka-angka saja tidak melihat dari makna proses belajar itu sendiri.Sekolah bukan pabrik artinya bagaimana cara mengahasilkan keuntungan dengan modal sekecil-kecilnya,maksudnya mau mesin nya jelek atau rusak yang penting hasil nya bagus.Belajar bukan untuk sekolah tetapi belajar untuk mengembangkan kehidupan.Memang dari pihak depdiknas juga tidak mau disalahkan karena itu sudah perturan nya, artinya jika depdiknas tidak mau mengikuti berarti depdiknas menghambat pembangunan pendidikan di negara ini.Jadi yang salah ya Peraturan yang mengatur sitem itu sendiri. Kalo niatnya UN untuk mengevalusi kegiatan belajar ya,diadakan nya bukan 1 tahun sekali dong…..
    saya cuma gak tega aja kalo UN diadakan di Indonesia,coba lihat perlombaan cerdas cermat antara”SMA KOLONG LANGIT ROBOH VS SMA LABSCHOOL KEMAYORAN”. Guru di sekolah saya berusaha mengejar materi pelajaran secepat mungkin karena waktu Un sudah makin mendekat padhal kan waktu pelajaran juga sudah ditetapkan sesuai kondisi. Walikota ingin kota nya lulus UN semua,kemudian menekan kepala sekolah untuk mengatur anak didiknya agar bisa lulus semua,kepsek menekan guru agar meberikan pengajaran yang baik agar siswa-siswi nya lulus semua….”pendapat”. Disini guru menjadi beban dari semua peraturan UN yang dibuat, udah gajinya kecil malah ditekan untuk melakukan pengajaran ya baik,,ada-ada saja!!!Semoga dunia pendidikan kita terlepas dari mafia pendidikan (kekuasaan, politik,dll).amin

    Comment by anak sma 9 — November 13, 2007 @ 2:48 pm

  30. Gravatar Image
  31. UN tahun 2008 ni bener2222222″”"”" buat kami puCieng………!!!! harusnya mata pelajaran yang di UN kan cuma 3 ja, cZ klo 6 mata pljran bsa” kpala aye PICAH-PICAH jdi 1.000…!!!

    Comment by arief 77 — February 8, 2008 @ 2:13 am

  32. Gravatar Image
  33. oia…Gw lupa !!!! pemerintah hrusX ngerti ma skil siswa-i SMU, msa pendidikan slama 3 tahun hanya dibYar dgn 6 mta pelajarn Dan hanya 3 hari Pula’,,
    By Anak” BontanK (KAL-TIM)

    Comment by arief 77 — February 8, 2008 @ 2:18 am

  34. Gravatar Image
  35. menurut gw UN yang diadain bener - bener gak masuk akal…siswa yu belajar selama 3 tahun dengan keras.tapi nasib mereka cuma ditentuin selama 3 hari waktu UN aja.kalau waktu UN ada sedikit kesalahan trus buat ga lulus,trus apa gunanya belajar selama 3 tahun diSEKOLAH?lebih baik g usah sekolah kalo yg nentuin lulus ato nggak tu pemerintah yang jejas - jelas gak pernah ketemu langsung ama para siswa.

    Comment by coco — April 24, 2008 @ 7:52 am

  36. Gravatar Image
  37. UN = Ujian Nasional atau UN = Ujian Nasib??????????

    Comment by blade — April 24, 2008 @ 7:57 am

  38. Gravatar Image
  39. UAN ITU SBNRNYA POSITIF2 AJA..TAPI TOLONG DONK BWT PEMERINTAH KONSEKUEN DLM MEMBUAT SOAAL UAN..SAYA SEBAGAI SISWA SMA YG BRU KMRN MENJALANI UAN SGT2LAH KECEWA..PERLU DIKETAHUI SBLM UAN TELAH DIADAKAN TRY OUT SLM 3X..JUJUR SAJA KAMI PARA SISWA BELAJAR DGN BERKIBLATKAN SKL YG TELAH DIKASIH DR PIHAK SEKOLAH DAN DARI SOAL2 TRY OUT..SAYA DAN TMN2 SYA MATIA2AN BLJR HINGGA JM12 MALAM,KDG2 KMI BANGUN JM 3 PAGI BELAJAR SMPAI TDK TDUR LG HINGGA ESOK HARINYA..NAMUN KMI SHOOCCKK SAAT MNERIMA SOAL YG JAAUUUH SKALI BERBEDA DG YG TELAH KAMI PELAJARII!!!!PESAN BWT PEMERINTAAAH:JIKA KALYAN INGIN MENCOBA MNJEBAK PARA SISWA,,MAKA KALYAN SUDAH SANGAAT2 BERHASIL KALI INIII.KAMI SDH PASRAH DG HASIL UAN NANTIINYA.THX

    Comment by eva silvani — April 25, 2008 @ 7:18 am

  40. Gravatar Image
  41. dengan kurikulum sekarang (KTSP) tentu saja pengadaan UN tidak sesuai. karena setiap guru dituntut untuk membuat rencana pembelajaran sendiri dimana pemerintah hanya memberi garis besarnya saja(SK dan KD)(coba lihat draft KTSP).yang namanya garis besar pasti sangat luas dan dengan waktu yang terbatas guru harus menyamapikan banyak materi.
    intinya, saya setuju kelulusan dilihat dari STTB.

    semoga menteri pendidikan membaca comment kita semua. amin.

    Comment by nurai — May 16, 2008 @ 3:39 am

  42. Gravatar Image
  43. kyakna un gag penting deh. Nah kalo anaknya pinter,cerdas dan jenius, tapi gag lulus un gimana? kan pernah tuh ada anak yang menang olimpiade, tapii gag lulus un sayang dong, un cuma bikin anak tertekan doang, karena banyak yang harus di pelajari dan di latih dan di hafal. apa gag ada lagi cara selain un untuk bikn murid sekolah pinter?

    Comment by marissa rosemiley — October 27, 2008 @ 8:39 am

  44. Gravatar Image
  45. saya sangat setuju dengan adanya UJIAN NASIONAL

    UJIAN NASIONAL TETAP DILAKUKAN DENGAN SYARAT BUKAN SATU -

    SATUNYA PENENTU DALAM KELULUSAN SISWA.

    CAYOOO………… UJIAN NASIONAL

    Comment by irlan — December 23, 2008 @ 8:30 am

  46. Gravatar Image
  47. menurut gw Un itu perlu, kenapa karena bagaimana pemerintah bisa mengetahui standar pendidikan di negaranya dibandingkan dengan negara lain…..

    Comment by jamal — January 21, 2009 @ 7:22 am

  48. Gravatar Image
  49. kami para pelajar bukan kelinci percobaan,buat mentri pendidikan jgn truz2an menaikkan standar klu2san seenaknya sja donk,,,percuma jg klo moment UN justru djadikan lahan bisnis ilegal! klo kita sudah bisa lu2s UN apakah ada jaminan pekerjaan yang layak bagi yang tidak melanjutkan kuliah? sementara lapangan pekerjaan sangat terbatas, biaya kuliah sangat mahal,bahkan banyak yang bilang universitas hanya untuk kalangan menengah ke atas,,,

    Comment by Endah — February 13, 2009 @ 5:33 am

  50. Gravatar Image
  51. aduu… UAN tar lg ney.. deg degan bgt,, tp mdhan lulus..
    doain yah smua.. UAn tc ptg cie.. tp kuq masih aja ad oknum yg ingn menjajah peljar dgn ngejual knci jwban kepada peljar,kalau peljar itu dapet kunci jawaban kan sama aja sekolah itu nggak bisa ngukur kemampuan muridnya,jadi pecuma aja kalau misalnya sekolah yang punya “nama” tapi dibalik itu “main belakang”…

    Comment by TryNyKha — February 14, 2009 @ 12:27 pm

  52. Gravatar Image
  53. ujian nasinal itu perlu….sbgai motivasi agr para siswa lbih giat belajar…..adapun prsoalan2 yg ada itu cma proses adaptasi saja.jadi lanjtukan…..

    Comment by yudika — June 17, 2009 @ 10:02 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here