Inspirasi Pagi


February 21, 2007

Dua makhluk aneh

“Berapa pak?”

“Dua ratus empat puluh.”

“Loh, kok sama saja dengan bikin yang baru?”

Hari Rabu ini saya membatalkan kuliah statistik buat ngurus perpanjangan SIM. Besok sudah susah karena jadwal yang padat hingga minggu depan. Terpaksalah kuliah 1 jam kali ini diliburkan. Mahasiswa senang, dosen bahagia.

Tiba-tiba saya sudah di SAMSAT ngurus SIM. Kata Ahyani, teman yang baru saja ngurus SIM, kalau perpanjangan gampang, nggak usah ‘dibantu’. Berbekal informasi itu maka dengan pede saya mau mencoba ngurus sendiri. Dan terjadilah dialog tersebut dengan seorang petugas yang menawarkan bantuan.

Pagi itu, karena saya tahu akan menghadapi keruwetan bisnis SIM, maka saya ingat untuk berdoa semoga mendapat kemudahan. Dan alhamdulillah, tepat di sebelah saya ada orang yang juga ingin mengurus perpanjangan, dan sama herannya dengan saya atas biaya perpanjangan yang mahal. Cuma beda 10 ribu dengan ngurus baru (lewat bantuan).

Ya sudah, kami sepakat ngurus sendiri berdua. Tes kesehatan, bayar 10 ribu. Mau beli formulir SIM, eh, suruh sidik jari dulu. Loh, kata teman saya nggak perlu (demikian pula komentar seorang petugas di selasar). Mungkin beda kali ini, ya sudah dituruti saja. Lalu kami berdua mengambil formulir sidik jari 5 ribu, mengisinya, dan lalu mengantri diambil sidik jari. Tentu saja dengan menahan kecut karena form kami dilewati banyak formulir lain yang memakai ‘jalur tol’. Akhirnya beres sudah.

Lalu beli formulir. Harganya murah hanya 60 ribu, jadi untuk dua SIM total 120 ribu. Lumayanlah. Lalu kami masukkan formulir ke loket.

Tunggu sebentar. Kemudian kami dipanggil. Wah, hebat bener nih, cepat sekali pelayanannya…..

Dan duduklah kami di ruang ujian. Hanya berdua. Kok cuma berdua nih, kami berpandangan. Rasanya jadi makhluk aneh karena diperlakukan begitu istimewa.

“Pegawai di mana pak?” tanya petugas ramah.

“ITB pak,” jawab saya. Dia sejenak tertegun. Mungkin nama ITB masih cukup disegani. Mungkin juga Cuma saya yang ge er merasa dia tertegun, padahal boleh jadi ya cuek saja.

Tak lama berselang masuklah serombongan banyak orang yang ikut ujian. Kebetulan tempat kami berdua agak terpisah dari mereka, entah sengaja atau tidak.

“Bapak untuk ujian SIM C lulus, nilainya 20,” kata petugas. “Namun yang SIM A nggak lulus, kurang pak, hanya 18,” begitu kira-kira beliau menjelaskan. Alamaak, mati kutu aku.

Memang soal ujian SIM nya cukup lumayan nggak ngerti. Banyak pertanyaan tentang UU (undang-undang), misalnya UU sekian tahun sekian mengatur tentang…. (ya jelas KO, pernah baca saja nggak…). Paling-paling yang yakin hanya ujian rambu-rambu lalu lintas saja. Oke, saya ngaku pak, saya nggak belajar dan nggak bisa. (teman saya, sesama makhluk aneh pagi itu, lebih keok, ujian SIM C nya hanya benar 17 dari 30 soal)

“Tapi bapak kami prioritaskan, jadi kami luluskan,” kata petugas. (Asyiik, dalam hati saya.) “Jadi silahkan ujian praktek…,” kata petugas lagi. Ujian praktek? Alamaak…. Lalu diantarlah kami berdua ke petugas lain yang kemudian kami ikuti menuju tempat ujian praktek. Lagi-lagi di situ hanya ada kami berdua.

Basa-basi sana-sini, penjelasan tentang kesempatan ujian lagi bila saat ini belum berhasil, de el el. Intinya, kami berdua yang cerdas EQ ini jelas pasti langsung tahu maksud pembicaraan saat itu.

“Saya mohon dibantu, karena waktu sangat penting bagi kami. Ini kan juga meninggalkan tempat kerja, “ begitu kira-kira permintaan teman saya agar segala basa-basi ini segera tuntas. IQ kami masih cukup tinggi untuk tahu bahwa resiko mengulang proses perpanjangan masih akan sama saja, dan ujung akhirnya pasti … sama saja. Memangnya waktu kerja kami cukup berharga untuk dihabiskan ngurus SIM?

Jadilah teman saya bilang mau nambah 50ribu untuk dibantu. Alamaak, mati kutu aku. Tadinya saya cuma mau nambah 25ribu saja, jadi 50ribu untuk kami berdua. Sudah terlanjur.

“Saya sih tadinya mau 50 pak,” kata saya ragu-ragu.

“Untuk dua SIM? Ya, terserah Bapak, nanti saya sampaikan kepada pimpinan,” sahut beliau.

Akhirnya biar seragam dan tidak janggal, kami berdua menambah untuk tiap SIM 50 ribu. Keluar lagi duit 100ribu dari kantong.

Sekitar lima belas menit kemudian kami sudah di tempat foto. Lalu tiba-tiba SIM sudah ditangan. Ajaib.

Total pagi itu keluar 250 ribu untuk SIM A dan C. Jadi masing-masing berbiaya 125ribu. Hitung-hitung dibandingkan jalur tol 480ribu yang ditawarkan, masih bisa dihemat 230ribu dalam 2 jam. Jadi penghematannya 115ribu per jam. Hei, lumayan juga!

Resikonya ya itu, jadi makhluk aneh karena menggunakan jalur resmi yang kini tak lagi resmi (jalan tol nya yang jadi ‘resmi’).

Saya tahu para petugas itu ditarget –entah oleh siapa. Saya juga tahu, sistemnya memang sudah Tahu Sama Tahu. Saya pun tahu bahwa saya akan tidak berdaya, karena sendirian tidak berjamaah (dan punya power apa?). Alhamdulillah, pagi ini Allah telah memberi saya seorang teman, yang sama-sama mau perpanjang SIM. Yang tadinya dua orang penakut, ketika bergabung jadi lebih berani untuk mencoba jalur yang formal (alasan teman saya, biar tahu caranya). Tapi saya juga jujur, saya memang semestinya nggak lulus ujian SIM. Memang nggak belajar! (Kalau ada yang gagal ujian, mungkin itu salahnya si peserta ujian. Kalau hampir semuanya gagal, ya jangan-jangan salahnya yang ngasih soal.) Nggak apa-apa sih bila sistemnya berjalan bersih dan adil, dan andai saja SIM bisa diurus saat hari libur (ini yang penting, akhirnya kita ini membeli harga waktu). Tapi ya itulah kondisi Indonesia saat ini, peluang terbesarnya rakyat akan kembali kalah.

Kuis : siapa hayoo yang SIM nya bersih ‘nggak nembak’, ngacung…!

PS: ini hanya pengalaman saya. Mungkin banyak SAMSAT lain yang sudah berjalan tertib dan bersih.

richlife - khairul @ 4:53 am

19 Comments »

    Gravatar Image
  1. standard ah.. :p

    btw kok bikin sim di samsat ?

    ngga ke mobil sim keliling aja ?

    Comment by rendy — February 21, 2007 @ 10:20 am

  2. Gravatar Image
  3. (tunjuk tangan tinggi..tinggi!!) wakakakaka … saya asli pak jujur .. perpanjangan sim A dan sim C cuman 160rb di kantor polwil bdg.HANYA 2 jam …TANPA test praktek .. TANPA pake sogok!.halalan toyyibann .. mungkin BAROKAH dari SIM itu,sering kali waktu ada cegatan pemeriksaan di STOP!.pernah sekali lewat pemeriksaan lagi ndak bawa dompet, alhamdulillah tidak di STOP!!. aminnn ….

    Comment by Ipans — February 21, 2007 @ 10:27 am

  4. Gravatar Image
  5. Aneh..

    “Bapak untuk ujian SIM C lulus, nilainya 20,” kata petugas. “Namun yang SIM A nggak lulus, kurang pak, hanya 18,” begitu kira-kira beliau menjelaskan. Alamaak, mati kutu aku.

    18 itu seharusnya lulus..

    Dan selama jangka waktu setahun setelah SIM kadaluarsa, kalau memperpanjang, seharusnya tidak perlu ujian SIM. Memangnya, kadaluarsanya kapan?

    Comment by kunderemp — February 21, 2007 @ 1:06 pm

  6. Gravatar Image
  7. no 1 : maunya SIM keliling, tapi katanya baru sekitar 3 bulan lagi ada (begitu kata petugas)

    no 2 : wah itu keren banget. yang SIM C duluu sekali pakai ujian (waktu masih SMA), tes zig-zag, tes angka delapan, dll. Waktu itu (akhir 80-an) sepertinya kebanyakan orang ikut tes, bahkan bisa beberapa kali ngulang ujian praktek. Rasanya kemarin tempat tes nya sepi-sepi saja… :)

    no 3 : SIM nya sih belum habis, memang nasibnya kita tidak diberitahu sejak awal standar kelulusannya. Jangan-jangan 15 juga lulus ya…?

    Comment by khairulu — February 23, 2007 @ 11:00 pm

  8. Gravatar Image
  9. gw dulu ngurus sim C gak pake nembak, ya skitar 3taon yg lalu cuman abis rp. 83.500,-, tp yg gitu ngantrinya mulai jam 8 sampe jam 4 sore baru selesai gara2 diserobot yag pake jalur ‘tol’

    Comment by jack — March 11, 2007 @ 2:34 pm

  10. Gravatar Image
  11. Alahmdulillah di DKI untuk perpanjangan SIM maupun STNK dapat dilakukan di mobil layanan keliling. Bln Mei 2006 kemarin ngurus perpanjangan sim A dan C @ Rp.90.000. Total Rp.180.000. Datang jam 09.00 kelar jam 10-an. Lancar,aman

    Comment by torusa — April 9, 2007 @ 1:21 am

  12. Gravatar Image
  13. Saya ditawarin bikin sim C neh secara kolektif di UI- Salemba Rp.450.000,-

    Comment by sudur — April 12, 2007 @ 4:49 am

  14. Gravatar Image
  15. Lima tahun yang lalu, waktu bikin SIM untuk pertama kalinya di Jakarta, saya berUSAHA untuk dapet SIM A secara jujur. Sama tuh prosesnya, lulus ujian tertulis (ga tau yah, padahal ngawur juga). Trus disuruh ujian praktek. Eh, nggak lulus. Suruh balik lagi minggu depannya. Kayaknya udah mau nggak lulus lagi, so I got smarter. “Pak, bantuin dong… udah kedua kali ni…” “Ya udah,” katanya, “ngomong aja sama bapak di bawah payung.” Dibawah payung aku kasih si pak polisi tambahan 40rb kali ye… dia ngangguk2 aja terima duit. Beres deh!!
    Sekarang? I’ve let my SIM expire again. I wonder how much I’m gonna spend this time :-)

    Comment by martha — June 6, 2007 @ 3:13 pm

  16. Gravatar Image
  17. ini berarti kagak bener pikirannya, hari gini ributin SIM,di saat umat Islam ditindas makar kafirin, semua pejabat dan aparatnya bermental zionis tapi melayu doyan nasi bungkus.Kalau daulah Islam terbentuk lewat tarbiyah yang benar nggak ada hal yang ruwet kayak begini.SIM jelas BID’Ah nggak ada jaman Nabi yang suci, Itu semua bikinan yahudi

    Comment by ahmed shahi kusuma — June 7, 2007 @ 1:33 pm

  18. Gravatar Image
  19. kebat-kebit tiap urus masalah sim, maunya jujur..ih susahnya… apa ini efek dari pendidikan budi pekerti yang dihilangkan dari pendidikan ya?

    Comment by maya — July 19, 2007 @ 6:46 am

  20. Gravatar Image
  21. Keterbatasan waktu kadang memaksa orang untuk lewat TOL, sehingga orang jadi gak mau ribet ngurus sana-sini. Oh Indonesiaku, patutkah aku tetap bangga padamu????

    Comment by Imran — July 27, 2007 @ 12:22 am

  22. Gravatar Image
  23. to komentar no 9.

    anda bilang sim bid’ah, gak ada di jaman nabi…
    trus bilang kaga bener pikirannya, gara2 ngributin sim…

    lha ente nulis komentar di blog ini juga make barang bid’ah (komputer, listrik (bwt nyalain komputernya), PLN (tempat bayar listriknya), telkom (kalo nt make speedy), ato warnet??)

    trus mau nanya juga, apakah daulah bisa tegak kalo hanya komen siis ama yang laen? emang benar “qulil haqqa walau kanna muran”, tp itu konteksnya lain. mengkritisi tanpa memberi solusi kayaknya sia-sia deh…

    Comment by sahirul — August 22, 2007 @ 6:27 pm

  24. Gravatar Image
  25. pak, ini saya adhi sudah di jerman, saya mencari email bapak tapi ga ketemu, jadi mohon maaf kontaknya lewat blog. mungkin bapak bisa memberi email bapak, supaya saya bisa kirim email dan kabar ke bapak. terima kasih banyak pak, sekali lagi mohon maaf kalo lewat blog

    salam
    adhi yuliartha

    Comment by adhi yuliartha — September 13, 2007 @ 12:37 pm

  26. Gravatar Image
  27. Pengalaman terakhir buat SIM. Selain foto kopi KTP saya berikan foto kopi kartu pers juga (karena memang mereka minta), hasilnya bener2 kaya jalan tol, setelah menyelesaikan administrasi, tidak lama kemudian dipanggil petugas dari dalam ruang tes tertulis katanya saya lulus padahal masuk ruangan test juga belum. Lalu disuruh ke lapangan untuk test praktik, lagi-lagi disana begitu datang langsung dinyatakan lulus cman diajak ngobrol aja. Proses selanjutnya ya tidak jauh berbeda lancar, bebas hambatan dan didahulukan sampai tidak enak sama yang lain.

    Untuk biaya, Cman habis biaya normal pembuatan SIM 75.000 atau 80.000 untuk satu SIM.

    Usut punya usut ternyata saya diperlakukan seperti itu dengan catatan jangan menulis yang tidak-tidak di media. Memang sih saya lihat waktu itu praktik bisnis SIM sangat vulgar sekali.

    Saya juga tidak akan menulis di media, karena saat itu memang baru mengundurkan diru (alasan aja nih, mentang2 simnya udah dapat :P
    Repot juga, SIM-nya sudah terlanjur jadi …:P

    Comment by rayyan — September 26, 2007 @ 3:56 pm

  28. Gravatar Image
  29. SIM=surat ijin main

    main motor2an
    pak polisi qu yang baik … aduh, aku belum bikin2 SIM.
    motor letter T padahal di bekasi, maafkan aku yah … mungkin nanti di rejeki berikutnya.
    atuh mahal2 begete.

    Comment by khansa — October 17, 2007 @ 1:03 pm

  30. Gravatar Image
  31. Saya Pak…. SIM C saya gak nembak… lulus ujian tertulis… dan lulus ujian praktek… walau ujian praktek ujian 2 kali… karena yang pertama nabrak balok…trus ngomong sama “komandan” minta diulang saat itu juga… eh bisa ;)

    Comment by Jef — March 3, 2008 @ 5:22 am

  32. Gravatar Image
  33. Kalo saya yang ga nembak adalah paspor. dateng pagi, selese siang karena nomor antrian ga bergerak2, sialan. Siangnya mulai lancar karena orang yang didahulukan lewat jalan tol udah habis (biasanya memang mereka dateng pagi2).

    Jadi kalo ngurus barang2 begituan secara jujur, mending dateng siang setelah rombongan2 penembak udah habis…

    Comment by alfa — March 7, 2008 @ 3:57 am

  34. Gravatar Image
  35. hehe.. saya juga lewat jalur lurus kok, 80 ribu tapi itu lewat bis yang ngetem di kawasan industri kami, iseng2 saya mampir, dan wuzz 15 langsung jadi, kalau di jabodetabek system bus Banpol cukup diminati warga pak, karena cepat dan murah, … bagaimana dengan Bandung..??

    Comment by Koko A Jie — April 17, 2008 @ 2:40 am

  36. Gravatar Image
  37. Apa kabar Pa Khairul? Saya mahasiswa Quantum angkatan pertama nih.. Ikut ngacung ah! Ternyata SIM C saya udah abis 2 taon & saya nggak nyadar karena ‘nempel’ terus di dompet & nggak pernah diperiksa. Jadi ‘terpaksa’ bikin baru lagi & penasaran ikut jalur resmi. Test teori gagal 1 kali, jadi kudu ikutan test lagi. Thx God test prakteknya langsung lulus! Hehe.. soalnya banyak gagal, kira2 1:15an. Jadi bangga juga punya SIM hasil keringat sendiri, bukan hasil ‘nembak’. hehe…

    Comment by Arsenius — September 23, 2008 @ 9:58 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here