Inspirasi Pagi


September 19, 2007

Kiat Mengakali Toilet Bule

“Sialan,” batin saya.

Mengumpat jelas buruk, namun tiap kali bertemu ‘WC bersih’ tanpa pembilas air sama sekali saya jadi sangat dongkol. Ini Indonesia bung, bukan negeri musim dingin.

Kita bisa maklum kalau di negerinya bule yang ada musim dingin memang budaya membersihkan bekas hadats (istinja’) sering hanya memakai kertas. Tapi kenapa budaya itu secara latah diadopsi di Indonesia, yang negerinya panas, banyak airnya, dan mayoritas muslim? Problem mental rendah diri bangsa Indonesia?

Ketika banyak air tak layak secara hukum Islam untuk bersuci hanya dengan tisu. Alasan boleh bersuci dengan benda kering seperti halnya di padang pasir sana, jelas alasan yang mengada-ada. Tapi kita tahu kok, gedung Mulia GKBI di sudut semanggi itu memang dirancang dan dibangun bukan buat melayani orang Islam. Lebih tepat memang buat bule (yang tidak tahu aturan bersuci Islami) dan mereka yang tidak peduli kesucian (cuek sajalah, gitu aja kok repot!). Ya memang nggak butuh sholat, ngapain bersuci? WC yang ini betul-betul tidak ada air pembilasnya. Pipis, usap dengan tisu, masukkan celana, beres.

Dan, saya merasa berhak mengumpat. Di antara banyak pilihan bentuk WC, kenapa yang jenis ini yang dipilih? WC-bersih-tak-peduli-biarpun-najis.

Tapi ini bukan pengalaman pertama. Jadi, sambil bersungut-sungut kesal, saya ambil SEGUMPAL TISU di WC, jalan ke wastafel, basahi tisu dengan air sampai cukup banyak diserap, …. jadilah tisu sebagai sumber air mini! (more…)

richlife - khairul @ 5:09 am

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here