Inspirasi Pagi


May 22, 2006

Harga koneksi internet dan 3G yang layak di mata konsumen?

Saya bukan operator, karena itu saya kurang paham mengapa Indosat mengubah kebijaksanaan tarif koneksi GPRS tahun lalu yang sebelumnya paket 200ribu (unlimited) menjadi Rp 5/KB. Saya juga tidak tahu apakah pelanggan yang dulu tetap loyal, atau berpindah ke operator lain. Yang jelas, teman-teman saya di Bandung kebanyakan pindah ke Cyber Colony yang disediakan Quasar (tarif flat Rp 275ribu)

Tim saya di Sharing Vision pernah coba-coba menghitung biaya yang ‘masih diterima’ oleh konsumen dalam membeli jasa koneksi internet (yang artinya juga biaya untuk koneksi data 3G).

Harga idealnya adalah : Rp 0,2/KB. Harga semi ideal adalah : Rp 0,5/KB.

Perhitungan Harga yang sesuai kewajaran (Willingness To Pay = WTP)

Willingness to pay adalah harga yang diterima sebagai harga wajar oleh konsumen. Misalnya harga mobil Toyota Kijang sebesar 2 milyar pasti dianggap tidak wajar, sedangkan harga Ferrari 2 milyar dianggap wajar! Sebaliknya kalau menawarkan Ferrari baru seharga 50 juta juga dianggap tidak wajar (jangan-jangan mobil curian..). Dsalam benak konsumen ada harga yang dianggap wajar, inilah yang disebut harga Willingness to pay (WTP). (more…)

teknosos - khairul @ 8:47 am

May 20, 2006

Memberi masukan untuk ijin Wimax

Dari ibu Kus (BRTI) : publik diberi kesempatan untuk memberikan masukan bagi regulasi Broadband Wireless Access. Masukan ditutup tgl 25 Mei 2006 (sebentar lagi neh fren… buruan)

lihat selanjutnya di : http://www.postel.go.id/update/id/bacainfo.asp?idinfo=349

*info ini didapat saat training SharingVision

teknosos - khairul @ 9:31 am

May 10, 2006

Solare : sel surya + LED

Tak dinyana, lampu senter yang selama ini saya cari di toko justru saya temukan di pasar kaget hari minggu samping rumah. Mungkin Anda pernah lihat lampu senter yang untuk mengisi baterainya cukup di koclok-koclok (guncang-guncang)? nah itu yang saya cari.

Ternyata ada varian yang lebih canggih, cukup dipijit-pijit maka ada per yang memutar ‘dinamo’ dalam senter. Versi ini yang saya beli dengan harga 17 ribu. Yang koclok-koclok itu harganya 15 ribu. Made in China. Ya murah. (fotonya kapan-kapan ku upload, kalau mood)

Nah, di lampu itu saya melihat secara langsung bentuk lampu LED. Jenis lampu yang sangat hemat. Saya langsung teringat dosen saya, Pak Dodot yang membikin Solare.

Singkat kata, ini artikel tentang beliau dan betapa besar jasa beliau dalam memberikan penerangan kepada penduduk desa. Berikut dua link dari artikel di Pikiran Rakyat, September tahun lalu. Tentang Solare dan profil Pak Dodot.

Aku bangga dengan dosenku (dulu) ini. Sempat ketemu di Bontang beberapa bulan lalu. Beliau pulang dari Pupuk kaltim, saya dari LNG Badak. Ngobrol-ngobrol tentang Solare, ternyata tiap rumah di desa hanya butuh listrik 20 watt saja. Wow!

teknosos - khairul @ 3:13 pm
« Previous PageNext Page »

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here